Rabu, 20 Juli 2011

Menertawakan Dunia

karya: Norhamidah

“pulang sekolah nanti kita ke warung seberang yuk !” ajak Sisi.
“ngapaen ?” Tanya nayla dengan nada sewot. “uang jajan gue udah ludes !” sambungnya lagi.
“ludes. . .ludes. . . emangnya tadi loe kemalingan uang jajan, apa? Tenang aja ciin. . . ntar nich gue yang traktir” ujar Sisi dengan soksoan.
“hmmm. . yang bener loe ? nggak bo’ong kan ?” ucap Dina kurang percaya.
“beneran, ntar gue yang bayar” jawab Sisi. “gini nich enaknya kalo punya bokap yang, yaa bisa dibilang sukses. Apa aja tinggal minta and sesekali donk mentraktir temen-temen” tambahnya lagi dalam hati dan sambil nyengir .
“woy, cengar cengir gak jelas aja loe dari tadi ! setengah miring ya loe ?” tegur Dina. “tapi kalau dipikir-pikir, aneh juga ya? Sisi dapat uang dari mana ya ? tumben mau traktir gue ama nayla. Kerja aja nggak” pikir Dina sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak sama sekali gatal dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
###
“tet. . . tet. . . teeeet” bel sekolah sudah berbunyi, yang artinya para murid akan pulang. Begitu pun juga dengan kelas Sisi. Suasananya panas dan membara, tanpa basa-basi Sisi menarik tangan kedua temannya, lalu mereka menyeberang jalan langsung tanpa ada kendaraan yang lewat di depan mereka.
Sesampainya di warung makan, Sisi pun langsung memesan makanan kepada salah seorang pelayan warung. Sambil menunggu pesanannya datang, rupanya mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu. Biasalah kalau cewek-cewek remaja yang lagi puber agak jauh beda dengan anak-anak. Hampir kurang lebih sepuluh menit mereka menunggu, akhirnya pesanan yang mereka tunggu-tunggu sudah siap untuk dimakan dan nagkring di depan mata, namun masih panas. Tanpa pikir panjang, mereka pun melahap makanan yang ada di meja. Tanpa peduli kalau makanan tersebut masih panas, maklum kalau siang-siang perut sudah pada kosong plus keroncongan.
###
Keesokan harinya, Sisi tidak masuk sekolah. “kenapa ya?” kedua sahabatnya pun bertanya-tanya. Tumben Sisi tidak nongol-nongol juga dari tadi. Tak terasa bel berbunyi. Semua murid duduk rapi di kursinya masing-masing. Hanya satu kursi yang masih kosong, di depan Nayla dan Dina, yaitu kursi Sisi. Ketika absen pun Sisi berketerangan alpa. Ya sudah lah.
“Bla. . .bla. . .bla. . .” penjelasan ibu Tuti, menerangkan tentang pelajaran Biologi. Ruangan pun terasa hening.
Hari berikutnya Sisi masuk sekolah, dengan pakaian yang rapi dan bisa dibilang oke. Sisi pun berangkat ke sekolah dengan menggunakan motor yang setia dikendarainya. Ketika memasuki gerbang, rupanya masik terbuka. Sesudah motornya nangkring di parkiran, ia pun langsung nyosor ke kelasnya. Namun saat ia masuk, ada dua pasang mata yang melototinya.
“Neng. .! kok kemaren loe gak masuk sekolah sih?” Tanya Dina.
“Gue malu” jawab Sisi.
“malu kenapa sih? Aneh banget loe” sambung Nayla.
“Biasa. . .”jawab Sisi lagi acuh.
“biasa kenapa?” lanjut Nayla.
“sekarang gue mau Tanya sama loe, loe tau kan gue alergi sama makanan apaan?”
“alergi sama udang!” jawab Dina dan Nayla serentak. Sisi pun manggut-manggut, bukannya ngantuk, tapi mengiyakannya. “jadi loe kemaren itu memesan makanan yang ada udangnya?” lanjut Dina lagi.
“ya” balas Sisi ringkas.
“gimana ceritanya tuh? Kok bisa sampe lupa?” sambung Nayla.
“namanya juga orang kelaparan neng, he he” jawab Zhizhi enteng.
###
“teeet. . .teeet. . .” waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Waktunya sekolah berakhir. “eh loe berdua! !” ujar Sisi lantang dan keras, memanggil Dina dan Nayla yang jauh meninggalkannya. Membuat orang-orang yang mendengarnya berbalik menoleh Sisi dan tercengang sebentar.
“hei, ada apa?” ujar Dina.
“nanti sore kita ngumpul-ngumpul di rumah gue yuk! Mumpung bo-nyok gue lagi gak ada di rumah” ajak Sisi ketika sudah berjalan mendekat.
“insya Allah” jawab Dina dan Nayla serentak.
###
“tok . . .tok. . .tok. . .”. Klek! Berdiri wanita setengah baya dengan memakai baju daster dan serbit diletakkan di bahunya.
“mau cari siapa ya?” Tanya wanita itu dengan suara lembut.
“Sisi ada gak bi?” Tanya Dina.
“ada non. Hmm. . . monggo, silahkan masuk!”
“makasih”
“tunggu ya non, saya panggilkan non Sisinya”
“iya bi!”jawab mereka serentak. Nayla dan Dina menunggu di ruang tamu, sedangkan bibi tadi memanggil Sisi yang sedang berada di dapur. Tak berapa lama Sisi pun langsung datang menemui Nayla dan dina. Terjadilah ajang senang-senang Abg. Semua pun cepat berlalu.
“krringg” jam panda Sisi berdering. Awalnya Sisi membuka matanya sedikit, namun ketika melihat jarum jam telah duduk di angka enam lewat setengah.
“aku kesiangan!!!” teriak Sisi. Langsung ia meloncat ke kamar mandinya dan tak berapa lama ia meloncat lagi kembali ke kamar. Mencari baju seragamnya, tak ayal akibat ulahnya itu, kamarnya menjelma menjadi sebuah kapal pecah. Semua persiapan ke sekolah dilakukannya dengan sekejap.
“ya ampun, tinggal 15 menit lagi. Harus cepat-cepat nih!!!” ucapnya ketika melihat jam di tangannya. Selanjutnya ia langsung meloncat menuju meja makan untuk memakan sepotong roti dan dengan sekejap ia sudah ada di depan rumah untuk siap mengendarai motornya. Ia langsung terbang menuju sekolahnya dengan kecepatan tinggi.
“upps!” ucapnya pasrah ketika melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat. Di dekatinya penjaga sekolah, dengan memasang wajah memelas gerbang pun terbuka dengan mudahnya. Selesai melalui gerbang depan, Sisi langsung menuju kelasnya.
Dengan rasa deg-degan SIsi masuk ke kelas, namun ia langsung disambut oleh omelan guru. Namun syukurnya ia tetap bisa mengikuti pelajaran seperti biasa walaupun setelah belajar ia dijanjikan oleh sebuah hukuman. Hukuman yang membuat Sisi lumayan kapok dan tersiksa. Ia di suruh untuk membersihkan WC setelah pulang sekolah.
“Si! Kok loe terlambat sih? Emangnya kenapa?” Tanya Dina sambil mendekati Sisi.
“kesiangan buu. . .”
“ouh. . .” balas Dina dengan memoncongkan mulutnya.
“iya” lanjut Sisi “eh, seru banget ya kemaren?” sambungnya.
“seru?” jawab Nayla bingung “Seru apaan?”
“kemaren kan kita ngumpul di rumah gue. Masa kalian udah lupa?” cerocos Sisi.
“ya ampun. . .” ucap Dina terkejut.
“ada apa Din?” Tanya Sisi dan Nayla serentak.
“kemaren gue lupa ke rumah loe Si! Maaf ya!” jawab Dina.
“hah? Sama! Kemaren gue bantuan nyokap bikin kue, jadi lupa deh” cerocos Nayla.
“hmm, jangan becanda ya kalian?” balas Sisi tak yakin.
“yah, berarti gue mimpi donk!” seloroh Sisi. Nayla dan Dina pun pecah dalam tawa. Menertawakan Sisi yang ceroboh dan pelupa. Menertawakan betapa lucu sebenarnya persahabatan mereka. Sisi juga ikut tertawa, walaupun ia sadar kalau sebenarnya yang ditertawakan adalah dia sendiri. Semuanya terbuai untuk menertawakan dunia.

Diary Cinta

Karya: N. Rani

“dug dug dug” bukan suara beduk mushala, melainkan suara jantungku yang sedang gugup. ketika melihat seraut wajah sinis menuju ke arahku, seakan berupaya mencekik leherku. dua sahabatku yaitu Meyda dan Resa yang tadinya ada di sampingku. kini mereka lenyap menghilang dari teras rumahku, bersembunyi untuk menghindar dan tak ingin ikut campur hingga meninggalkanku tanpa mengajak.
“huh, dasar tuh anak bedua gak setia kawan banget, cuman setia kawin aja” ucapku dalam hati. tak kuduga ternyata raut wajah sinis itu sudah ada dihadapanku. “degup. . . . .” jantungku terasa terhenti.
“ada biya nggak, tadi di sini?” tanya Leo, sambil melotot menatapku. “kenapa loe Dea? kok bengong gitu, abis liat hantu ya?” sambungnya sambil menghalaukan tangannya ke kanan dan ke kiri depan wajahku.
“ah loe, iye abis liat hantu” jawabku ketus.
“lha, , , mana? hantu merk apaan?” tanyanya mencari-cari ke sana sini. “gak ada tuh! bo’ong loe!” sambungnya.
“nih hantunya, yang ada di depan gue, yang pake topi. hantu merk taon 50’an” kutunjuk ke arahnya.
“ya elah loe, tega banget ama temen sedari dulu. huuuu” ringisnya. “ada gak tadi biya ke sini?” sambungnya lagi.
“ya. . . . ada sih tadi, sejam yang lalu lah” jawabku sambil memainkan kuku.
“ngapain dia? ngapain? hah?”
“ngapain dia? Dea, ngapain dia tadi?” lanjutnya, tanpa memberiku waktu menjawab
“jawab dong Dea!” leo seperti penasaran dan panik.
”terus aja! tanya aja terus! gimana mau jawab, loe nya ngoceh mulu dari tadi” balasku ketus.
“he he, , , serius nih” katanya sambil garuk garuk kepala.
“tadi dia memang ada, tapi cuman lewat aja. gak pake mampir” kataku santai pada leo.
“yaaaaaaah . .! ya udah deh! aku balik dulu. Meyda! Resa! lanjutkan ajang ngerumpi kalian!” teriak Leo sambil beranjak pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumahku, hanya selang tiga rumah tetangga.
Meyda dan Resa pun keluar, beranjak dari dalam rumahku.
“hah? Leo ya tuh? seremnya!” kata Resa.
“Leo. . Leo. . kacian kacian!” ucap Meyda sambil menggelengkan kepala.
###
Lari, lari, harus lari. sebelum bel sekolah berbunyi, aku harus sudah sampai. mungkin saking cepatnya aku berlari, becak saja sampai kubalap. “teeet, teeeet” bunyi bel sekolah, sedangkan aku masih di seberang, yang tak mudah untuk dilalui karena banyak kendaraan lalu lalang.
“ kalo aku nyebrang sekarang, cuman cari mati aja nih! ya Allah semoga setelah mobil sedan melintas, aku bisa nyebrang” tak lama setelah mobil hitam itu melintas, aku bisa menyebrang dan terus berlari, langsung masuk ke dalam kelas.
“hos, , hos, , hos! fyuh, bu Linda udah datang belum?” tanyaku pada Meyda yang duduk sebangku denganku.
“wiih, abis lari maraton yee? bu Linda belum masuk tuh!” jawabnya.
“alhamdulillah! he he. . iye gue abis lari maraton versi ngesot!” balasku.
“ha ha ha. . . ada-ada aja loe, uupps!” ucap Meyda sambil menoleh ke arah pintu, yang di sana telah berdiri bu Linda, guru IPA kami.
“keluarkan buku soal kalian, kita ulangan!” kata bu Linda lantang. murid satu kelas semuanya kaget, tak terkecuali aku.
“hah? yaah ibu!” ucap salah seorang dari teman sekelasku yang tak terima, kaget mendengar kata ULANGAN.
Tak dinyana, sepanjang ulangan yang sangat mendadak ini, semua beraksi melakukan berbagai cara untuk mendapatkan jawaban yang benar. dari cara menengok tetangga sebelah, lempar kertas sembunyi tangan, mengintip buku di bawah laci dan sebagainya. aku dan Meyda juga melancarkan aksi lempar kertas pada leo yang ada duduk di depanku.
###
“tet, ,tet, ,tet, ,” bel istirahat pun berbunyi, semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar kelas. begitu juga aku, Meyda dan Leo, kami pergi ke kantin.
“mbak! baksonya 3 plus es jeruknya 3 gelas! GPL ya!” pesan Meyda. “ laper banget nih abis ulangan mendadak” sambungnya lagi.
“iya ya!” tanggapi Leo. “eh, kenapa loe Dea, hari ini telat? jadinya gue duluan tadi, gak sempat nungguin loe” tanyanya padaku.
“iya nih, pasti begadang malamnya” tambah Meyda.
“gak kok! gue malam tadi nonton film Harry Potter ampe jam 11” ujarku sambil melahap bakso.
“yah . . . gue gak nonton deh” balas Meyda sambil menyedot es jeruk.
“ye, itu begadang juga namanya” celetuk Leo.
“yeee, kata sapa coba?” sambarku.
“ya. . . kata bang haji Rhoma Irama lah” balas Meyda dengan suara ngebass.
“sungguh terlalu” lanjutku.
“ha ha ha ha” tawa pun pecah dari kami bertiga.
###
Kulihat ke atas, terlihat laron-laron beterbangan mengitari lampu yang ada di teras depan rumahku. aku duduk di bangku, ditemani Leo setiap malam, hanya untuk ngobrol. kebanyakan Leo yang sering bercerita dan aku wajib mendengarkan. dia selalu menceritakan tentang Biya padaku. “Leo, Leo, kenapa tak pernah bosannya kau menceritakan Biya padaku, aku sudah mulai bosan karena kau hanya bisa mengagumi dari jauh tanpa bisa mengungkapkan” sering ucapku dalam hati.
“ Dea!” panggil Leo mengagetkanku.
“ehh, a, apa?” jawabku. kulihat Leo mengeluarkan kotak persegi ukuran kotak sabun.
“nah gini, tolong kamu suruh Meyda besok buat nganterin ini untuk Biya. kan rumah Meyda sama rumah Biya berseberangan” ucapnya sambil menyodorkan padaku.
“oke, siip deh!” jawabku sambil mengacungkan jempol.
###
Keesokan harinya ku laksanakan tugasku yang dipinta oleh Leo untuk menyerahkan kotak yang berisi sapu tangan putih dan bertuliskan “TERSENYUMLAH” dari benang biru.
“Meyda!!!” panggilku dari kejauhan dan langsung ku hampiri.
“apa?” kata Meyda dari depan kelas.
“ini” kataku sambil menyodorkan kotak persegi yang dititipi Leo.
“buat aku nih? oh terima kasih. hah? apaan ini? sabun ya isinya? nyindir ya? aku udah mandi tau!” cerocos Meyda.
“ye’elah loe ge’er banget sih! bukan, ini tolong antarkan buat biya dari Leo” ucapku.
“yah, aku jadi kurir? isinya ini bom ya? ah gak mau! nanti aku dikira teroris lagi!” sahutnya sambil mengeluarkan mimik takut yang dibuat-buat.
“ya enggak lah” sanggahku sambil melototinya agar Meyda mau mengantarkannya.
“iya! iya! iya! deh, mungkin karena keterpaksaan. aku wajib dan harus nganter bom ini” kata Meyda dengan wajah yang pasrahnya juga dibuat-buat.
“Bukan bom Meyda! ihhh” balasku kesal.
“he he he! iya aku anterin, kebetulan aku baik hati dan tidak sombong!” ucap Meyda padaku.
“ye, pede amat nih anak!” aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
###
Beberapa hari kemudian. Di perempatan jalan sekolah, Leo berjalan di trotoar. ketika menyebrang, ia terserempet motor Biya. Leo pun terjerambab sehingga tangannya memar tergores aspal jalan.
“duh maaf maaf. . . ah Leo?” teriak Biya terkejut.
“Leo, kamu gak apa-apa kan?” lanjutnya sambil membangunkan Leo. “sorry banget ya. . .” tambahnya lagi.
“tangan kamu. . .?” refleks Biya sambil mengambil sapu tangan di saku roknya. lalu diusapkannya ke tangan Leo yang memar berdarah.
“i, i, i, itu kan . . .” ucap Leo terbata-bata dan tak percaya sambil menunjuka saputangan yang dipegang Biya.
“iya, ini sapu tangan yang kamu kasih. thank’s ya!” balas Biya juga dengan sebuah senyuman. dan senyum itulah yang selalu ingin dilihat Leo.
“ emmm. . ayo aku antar. naik!”ajak Biya pada Leo yang dari tadi hanya diam.
“lha? kok bengong? ayo! cepet!” tambahnya lagi, dan tanpa banyak cingcong Leo langsung naik dibonceng Biya. hati Leo serasa berbunga-bunga bisa sedekat ini dengan Biya. tak terasa sudah sampai di depan rumahnya.
“udah nyampe!” ucap Biya dari depan, dan dimatikannya mesin motornya.
“hah? sudah sampai?” tanya Leo kaget, padahal ia ingin lebih lama lagi bersama Biya.
“iya nih sudah sampai” jawab Biya. “eh, aku boleh pinjam buku sejarah semester satu kamu gak? buku catatan aku ilang” lanjutnya lagi.
“ahhh. . . i, iya” jawab Leo terbata-bata, dengan refleks dironggohnya tas sekolahnya, mencari buku yang dimaksud Biya, namun matanya tak lepas dan terus mengarah memperhatikan wajah Biya. “ ini nih!” sambung Leo ketika buku telah ditemukannya dan langsung disodorkannya kepada Biya.
“ah iya! aku pulang dulu ya!” kata Biya dan langsung pergi meninggalkan Leo.
###
“kriiiik. . .kriiiik. . .kriiiik. . .” terdengar suara jangkrik dari rerumputan di belakang rumah. kamar Biya, dinding bercat biru, menempel poster Boyband Smash dan foto-foto manis Biya sendiri. tak teratur namun masih terkesan indah untuk dekorasi kamar. Biya pun teringat dengan buku sejarah yang ia pinjam dari Leo tadi siang. Segera diambilnya dari tas dan bersiap untuk menyalinnya.
ketika dibukanya buku milik Leo, dia terkejut karena yang diserahkan Leo bukanlah buku catatan sejarah namun Diary pribadi milik Leo. karena tidak ada kerjaan dan diary Leo terlanjur sudah ditangannya. Maka diberanikannya untuk membukanya, dengan niat untuk mengetahui bagaimana Leo sebenarnya karena dia juga sedang menaruh hati dengan Leo. ketika membaca halaman pertama, betapa terkejutnya ia setelah membaca kata demi kata yang tertulis indah.
cinta, apa itu sebenarnya cinta
aku tak mengerti, mengapa ia dicipta
indah namun juga menyakitkan
ketika ingin ku ucap padamu
lidahku terasa kelu
beku tak bergerak
sakit, aneh, aku menikmatinya
ingin ku ucap, aku juga takut
apa kau balas, tak acuh
bolehlah kau kata aku pengecut, itu aku tak pantas
pendam, itulah kekuatanku
namun hanya kertas temani hari-hari cinta bersemi
ditemaninya aku berani
berani tuk ungkapkan
aku cinta padamu
Biya. . . . . . . . . .
tak terasa menetes air mata di pipinya, karena telah mengetahui lekaki yang ditaksirnya juga menaruh hati padanya. kata-kata yang menyentuh hati, memasuki relung hati yang paling dalam. mengakar dalam. merenggut dan merayap di sekujur tubuh. cinta yang sejati, cinta yang sama-sama cinta.
“mengapa tak pernah kau ucapkan Leo? aku telah menunggunya sejak lama. aku juga mencintaimu” lirih Biya, diusapnya airmata di pipinya.
###
keesokan harinya, di hari minggu yang cerah. Di lapangan basket dekat rumah aku main basket bersama Leo. aku kalah 1 angka dari Leo, 6-7. sebenarnya kami sama-sama 3 kali memasukkan bola ke dalam ring, namun aku kalah karena Leo masuk dengan lemparan 3 angka. kami lelah dan duduk di samping lapangan. dari kejauhan nampak seorang perempuan yang sangat familiar.
“hay Dea” sapanya dari kejauhan dan dengan lambaian tangan, tak lupa dengan senyuman manis khas Biya.
“ emmm, Leo! aku pinjam buku sejarah kamu donk!, yang kamu kasih kemaren bukan buku sejarah” pinta Biya.
“hah? masa?” sanggah Leo.
“lupa ya loe? buku sejarah kita kan dikumpul sama guru kemaren” cerocosku pada Leo untuk mengingatkan.
“ouh, iya ya. lha! terus buku apaan yang aku kasih kemaren, Biya?”tanya Leo. biya hanya tersenyum-senyum.
“nih, Sorry ya! aku telah tahu semuanya, terima kasih ya. aku juga cinta kamu”ucap Biya sambil menyodorkan buku diary Leo. Leo hanya bisa diam. diam tanpa kata. seperti ada makhluk halus yang sedang merasuki tubuhnya. entah apa yang dirasakannya, bahagia atau tak percaya atas apa yang diucapkan Biya. aku hanya bisa tersenyum dalam hati. menjadi saksi cinta sejati yang sedang bersemi. Melebur menjadi satu.

Bulan dan Bintang Menangis

Karya: Nurhadijah

“bete bete bete!” gerutu sofi di dalam kamarnya.
“kenapa sih selalu gue yang jadi korban. selalu aja gue yang disalahin. kenapa bukan Sofa saja? Dia kan yang selalu mulai duluan, dan kenapa hanya aku yang dihukum. Mana hari ini aku ada janji sama teman-teman” keluhnya kesal.
“kasian deh Sofi, kena hukum gara-gara mecahin piring” tiba-tiba Sofa masuk kekamar Sofi dan mengejeknya. Sofi makin geram saja melihat tingkah laku Sofa. namun ia hanya berusaha untuk bersabar.
“kasian, kasian, kasian!” ejek Sofa lagi, persis gaya mengikuti upin-ipin. Sofi pun mulai naik pitam, amarahnya sudah tak dapat dibendung lagi. dia pun berdiri sambil berkecak pinggang.
“kurang ajar loe ya, awas aja. Gue balas nanti” kata Sofi berteriak. dilemparnya bantal ke arah sofa.
“yee, gak kena, gak kena” ejek Sofa terus sambil menghindar dari lemparan Sofi. Sofi makin marah. Matanya melotot ke arah Sofa, bola matanya hampir keluar.
“pergi loe dari kamar gue” bentak Sofi mengusir Sofa. “pergi gak? gue lempar juga loe pake ini” bentaknya lagi sambil mengambil ancang ancang untuk melempar vas bunga.
“oke, oke gue pergi” balas Sofa. “ iih, atut ah liat muka Sofi. sereemmmm!” katanya lagi sambil berlalu keluar dari kamar Sofi.
###
“loe kenapa sih fi? kok gue perhatiin loe dari tadi manyun mulu kerjaannya?” tanya Fara, teman sebangku Sofi. “trus, kenapa kemaren loe gak datang. Kita nungguin loe tau?” sambungnya lagi.
“iya fi, kenapa?” timpal Keke pula.
“tersiksa tau? kita nungguin loe kemaren” cerocos Fara disertai anggukan Keke.
“asal kalian tau, gue itu jauh lebih tersiksa dari kalian berdua. kalian gak tau kan? kalau gue dihukum gak boleh keluar rumah” jelas Sofi.
“oh ya?” ucap Fara dan Keke bersamaan.” kok bisa? gimana ceritanya?” sambung Fara lagi.
“ ya itu semua gara-gara kakak gue yang nyebelin itu. gara-gara dia terus godain sama ngata-ngatain gue. ya gue lemparin piring aja. terus nyokap dateng, ya udah. dihukum deh gue” jelas Sofi. Fara dan Keke hanya manggut-manggut mendengar cerita Sofi.
“ouh, githu?” sahut mereka kompak. ”tapi menurut gue, kakak loe gak salah” sambung Fara kemudian.
“maksud loe?” tanya Sofi gak faham atas perkataan Fara.
“maksud gue, yang salah itu justru loe lagi. Loe itu orangnya cepat emosian. Trus kalau tiap kali loe marah pasti loe lempar apa aja yang loe pegang” jawab Fara retoris. “bener gak ke?” sambungnya minta persetujuan Keke.
“yups, betul banget” jawab Keke mengiyakan. Sofi makin mumet mendengar kata-kata kedua temannya, yang justru mendukung kakaknya.
“bukannya belain Gue? malah mojokin” batin Sofi. “udah ah, gue mau ke perpus. bete ngomong sama kalian berdua” kesal Sofi sambil berlalu pergi. Keduanya hanya heran menatapi kepergian Sofi.
###
“Sofa! ! !” teriak Sofi mengagetkan seluruh anggota keluarga.
“ada apa sih Fi? anak gadis kok teriak-teriak?” tanya mamanya heran.
“ini mah, masa kamarku berantakan kaya gini. Pasti Sofa deh yang ngacak-ngacak!” katanya sambil memperlihatkan kamarnya yaang sudaah seperti kapal pecah.
“bener Sofa?” tanya mamanya pada Sofa. Sofa hanya nyengir.
“he he. . . iya mah, tadi aku mandiin Pussy. Trus dia kabur masuk kamar Sofi. Karena kukejar, lari kesana kemari deh” jelas Sofa.
“alah. . . alasan aja loe! kucing yang disalahin” sanggah Sofi tak percaya.
“bener kok mah” kata Sofa meyakinkan mamanya. “lagian loe juga, ngapain kamar gak dikunci?” bela Sofa.
“Sofa, Loe it. .”
“Diam ! ! ! !” tiba-tiba suara mama memutus kata-kata Sofi. Mamanya sudah gak tahan lagi atas kelakuan kedua anaknya. “kenapa sih kalian ini berantem terus? apa gak bisa sehari aja gak berantem haaah? gak bisa?” teriak mamanya. “kamu juga Sofi, hal sekecil ini aja kamu ributkan” sambungnya lagi.
“tapi mah. . .” sanggah Sofi. Ia tak mau tinggal diam melihat Sofa yang tersenyum menang.
“udah, gak ada tapi lagi” kata mama memotong ucapan Sofi. semuanya pun berlalu pergi meninggalkan Sofi, yang hanya berdiri terpaku. Berbagai perasaan campur aduk dalam benaknya. Antara kesal, kecewa, geram, marah dan sedih berkumpul menjadi satu.
###
Matahari bersinar dengan cerahnya. Namun hati Sofi tak secerah sinarnya. Wajahnya terlihat murung dan sedih.
“loe dimarahin lagi ya oleh nyokap loe?” tanya Keke pada Sofi yang sangat tampak lesu. “kasihan loe Fi, pasti loe sedih banget ya? karena nyokap loe selalu marahin loe. Sementara kepada kakak loe gak” sambunya prihatin.
“apa jangan-jangaan loe. . .” ucapan Fara terhenti karena Sofi menatap tajam ke arahnya. Ia jadi merinding melihatnya.
“maksud loe?” serobot Sofi. “gue bukan anak kandung bokap-nyokap gue?” sambungnya sambil menahan amarah.
“he. . . he. . .” Fara hanya tersenyum kecut. Ia takut melihat wajah Sofi yang tampak seperti banteng yang siap menyeruduk siapa saja yang ada di hadapannya.
“udah Fi, loe gak usah dengerin kata-kata Fara. Dia memang suka ngejeblak aja. kalo ngomong suka asal” tenang Keke pada Sofi. Fara hanya cemberut mendengar ucapan Keke yang memojokkannya. Sofi hanya terdiam, meresapi pendapat Fara.
“mungkin ada benernya juga kata-kata Fara. Kalau Sofi bukan anak kandung bokap-nyokapnya, pantaslah mereka suka marah sama dia dan pilih kasih. tapi rasanya tak mungkin juga” Pikir Keke dalam benaknya.
###
Dengan sabar sofa menunggui Sofi di depan gerbang SMPN 1 Ampah, di mana sofi sekolah. Sesekali ia tersenyum teringat adiknya yang lucu dan lugu, siapa lagi kalau bukan Sofi. Sebenarnya Sofa ingin bisa akrab dengan sebagaimana kakak-adik pada umumnya. Tetapi, sepertinya itu akan sangat sulit mereka lakukan mengingat hubungan keduanya yang tak pernah akur.
“kok lama banget ya?” kata Sofa sambil melirik jam tangannya.
“mana udah jam 2 lagi, apa gue pulang aja kali ya? Tapi Sofi gimana?” Sofa bingung.
Sementara pada waktu yang sama, Sofi sedang berada di rumah Fara. “ha. .ha. . rasa’in loe, tungguin aja sampe kering. Emang enak gue kerjain?” katanya sambil tertawa senang.
“loe tega banget sih sama kakak loe sendiri” kata Fara.
“biarin aja! Dia juga sering kok berbuat yang lebih tega lagi terhadap gue” balas Sofi tak menghiraukan kata-kata Fara. Fara dan Keke pun hanya geleng-geleng kepala.
###
Dengan perlahan-lahan dibukanya pintu rumahnya. “klek” Sofi masuk dengan mengendap-ngendap seperti maling. Baru saja ia mau masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba saja terdengar suara memanggilnya.
“Sofi . . .!” seru mamanya. Sofi menoleh dan terkejut. “kenapa jam segini baru pulang? Kamu mampir di mana? Trus, kenapa membiarkan kakak kamu nunggu lama? Kamu tau kan kalau dia telat makan penyakit magnya bisa kambuh?” sambung mamanya lagi.
“aku. . ., aku. . .” Sofi tak sanggup berkata-kata, ia sangat gugup.
“apa kamu sengaja ingin ngerjai kakak kamu? Kenapa Sofi? Kenapa?” mendengar ucapan mamanya, telinga Sofi menjadi panas, amarahnya tiba-tiba saja memuncak.
“karena aku benci mah sama dia, karena mamah selalu saja belain dia. Kasih sayang mamah ke dia itu melebihi kasih sayang ke aku. Karena mamah itu selalu bersikap tidak adil sama aku” jawab Sofi dengan nada tinggi, ia telah gelap mata.
“itu karena kamu memang salah” jawab mamanya lagi. Namun Sofi tetap saja tak terima.
“mamah itu selalu saja percaya sama kata-kata Sofa. Sementara aku, mamah gak pernah dengerin penjelasanku. Apa mungkin benar kata teman-teman, kalau aku bukan anak kandung mamah, iya mah?” balas Sofi lagi, dengan suara yang lebih keras, memecah keheningan malam.
“PLAAKKKK” tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sofi, Sofi sangat terkejut bercampur sedih, tak menyangka mamanya tega sampai melakukan ini. Tak terasa airmatanya pun menetes, matanya berlinang menatap mamanya yang sedang amarah di hadapannya. Lalu segera ia berlari keluar rumah. Mamanya hanya terpaku, menyesali apa yang telah dilakukannya.
“mamah. . .!” Sofi mendekati mamanya yang sedang terduduk lesu di kursi. “ mamah kenapa menampar Sofi mah?” lanjutnya setelah bersimpuh di hadapan mamanya.
“mamah, mamah gak tau Sofa! Mamah gak tahu!” lirih mamanya.
“ya sudah mah, mamah istirahat aja dulu. Biar aku yang nyusul Sofi” lanjutnya menenangkan mamanya yang sedang shock. Sofa pun langsung segera keluar untuk menyusul Sofi. Berlari memecah angin.
Sofi terus berjalan tanpa tahu ke mana ia akan pergi. Ia terus melangkah dengan deraian air mata yang terus mengalir di pelupuk matanya. Tanpa peduli pada orang-orang yang berpapasan dengannya, yang melihatnya heran.
“Sofi. . .! !” tiba-tiba terdengar suara Sofa memecah isakan tangisnya, yang membuat langkahnya terhenti. Lalu ia menoleh ke belakang menoleh Sofa yang sedang tertunduk dan berusaha mengatur nafas karena habis lari.
“ngapain loe nyusul gue? Bukannya seharusnya loe senang ya, gue udah keluar dari rumah itu” bentak Sofi penuh amarah.
“gue mau loe balik lagi ke rumah, kasian mamah. Mamah sangat shock di rumah, dia sangat menyesal telah nampar loe. Gue janji gak akan bikin loe kesel lagi. Asal loe mau pulang!” bujuk Sofa.
“untuk apa? Gue gak diharapin ada di rumah itu. Dan loe gak usah sok care deh sam gue” balas Sofi sinis. Ia berlalu pergi.
“tapi emang kenyataannya gue care sama loe” teriak Sofa pada Sofi yang berjalan menjauh, tanpa menghiraukan. Sofi terus berjalan tanpa memperhatikan kalau di depan ada motor yang tengah melaju kencang.
“sofi . . . Awas. . .!” teriak Sofa. Segera ia berlari ke arah Sofi yang berdiri terpaku, lalu langsung di dorongnya Sofi.
“BRUAAAAKKKK” na’as untuk Sofa. Karena menyelamatkan Sofi, sekarang justru ia yang celaka. Sofi panik, langsung dipeluknya Sofa yang terpental—terbaring bersimbah darah.
“Sofa. . .! bangun. . . bangun. . .” isaknya, melihat Sofi lemah tak bergerak. “tolong. . .! tolong. . .! tolong. . .!” teriaknya, berharap ada orang yang menolong. Teriakan yang memecah keheningan malam yang tenang. Awan berjalan menutup Rembulan, seperti tak tega melihat apa yang terjadi malam ini. Kepedihan dan kesedihan hidup. Tiba-tiba air menetes dari langit, rintikan air mata langit. Kesedihan menyelimuti malam, menyelimuti dua insan yang sedang meratap. Tuhan ikut berkabung. Semua alam, pasti akan ikut—seluruh jagat raya. Hujan semakin deras, seakan Bulan dan Bintang ikut juga menangis. Menangis tersedu-sedu.

Rabu, 09 Februari 2011

Pukulan Hidup menjadi Hidayah

Karya: Norhadijah

Malam kian merambat, langit pun terlihat sangat gelap. Awan hitam bergumpal di atas sana. Kilat menyambar-nyambar dengan diiringi suara petir dan Guntur yang menggelegar. Memecahkan keheningan malam yang ikut memperkeruh suasana. Perlahan-lahan tetesan air hujan pun mulai turun mengguyur jalanan yang sudah tampak sepi dan sunyi. Bagaikan kota yang tak ada penghuninya sama sekali. Hening.
Di saat orang-orang tertidur dengan lelapnya. Namun malam itu di sebuah lembaga permasyarakatan IIB Barito Timur, di salah satu sudut jeruji besinya. Tampaklah seorang lelaki muda tengah duduk bersimpuh. air matanya mengalir membasahi wajahnya. Aliran airmata itu seakan tak akan berhenti, bibirnya tiada henti mengucap istighfar dengan dibarengi ketikan tasbih di tangannya. Ia terus berdoa kepada Allah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya.
Pemuda itu bernama Anto. Sebenarnya ia adalah anak dari keluarga kaya tapi karena kesalahannya yang menjerumuskannya masuk ke jeruji besi itu. Dengan beralaskan tikar kecil, Anto berbaring di atasnya. Ia berusaha memejamkan matanya. Tapi, mata itu seakan enggan untuk terpejam. Udara semakin dingin berembun. Makin lama hujannya semakin deras. Suasana semakin hening. Anto belum juga tertidur. Entah mengapa malam itu dirasakannya sangat sulit untuk tidur.
“ apakah malam ini malam terakhirku tidur di sini?” batin Anto. Ya, malam ini memang malam terakhirnya tinggal di penjara. Setelah 3 tahun lamanya ia hidup di penjara. Akhirnya Anto bebas dan bisa menghirup udara segar.
Ditatapinya langit-langit penjara, entah apa yang membuatnya kembali teringat pada masa lalunya. Pikirannya menerawang terbang kembali menelusuri perbuatannya di masa lalu.
###
Anto adalah anak pertama dari dua bersaudara. Ia sangat senang mabuk-mabukan, berjudi, main perempuan, mengkonsumsi narkoba dan lain-lain. Semua itu terjadi karena ia marah kepada orang tuanya yang dianggapnya telah menganak tirikannya. Kedua orang tuanya merasa sangat sedih melihat keadaan Anto. Tetapi rasa kesedihan itu bisa sedikit terobati karena rasa bangga kepada Dika, anak kedua yang shaleh dan taat kepada orang tua.
Seperti biasa Anto pulang dalam keadaan mabuk. Wajahnya lusuh tak karuan. Tubuhnya sempoyongan. Matanya merah berkunang-kunang. Pikirannya kalut.
“ nak, sadarlah! Apa yang kamu lakukan ini akan merusak akal pikiranmu nantinya” Ibunya berusaha menyadarkan Anto. Tetapi setelah mendengar perkataan ibunya. Anto marah dan mengamuk pada ibunya. Ayah dan ibunya hanya bisa diam. Mereka pasrah dan berdoa kepada Allah SWT semoga Anto lekas sadar dari kekeliruannya.
###
Matahari sangat terik. Setelah uangnya habis karena kalah judi. Anto pulang ke rumah untuk meminta uang kepada ibunya.
“ bu. . . ibu!” seru Anto dengan lantang memanggil ibunya.
“ ada apa nak?” jawab ibunya dengan lembut.
“ minta uang bu!” kata Anto setengah teriak.
“ uang untuk apa nak? Bukannya kemaren sudah ibu kasih” sahut ibunya.
“ alah. . . yang kemaren ya kemaren. Yang hari ini lain lagi bu” jawabnya dengan amarah. “udah deh, berikan aja” bentaknya lagi.
“ tidak anto, ibu tidak punya uang” jawab ibunya lagi, tetap dengan suara yang lembut. Anto marah kepada ibunya. Ia geram, tetapi itu hanya sementara. Saat dilihatnya perhiasan yang dipakai ibunya, seulas senyum tersungging di bibirnya. Dirampasnya kalung dan gelang emas milik ibunya dan kemudian berlalu pergi. Dengan rasa sedih dan linangan airmata ibunya mengiringi kepergian Anto.
###
Lama tak bertemu membuat membuat kedua orang tua Anto Rindu kepada Adik Anto, Dika yang kuliah di Universitas Islam di Banjarmasin. Pada saat yang bersamaan, Dika sedang libur panjang dan pulang ke kota Ampah karena sudah sangat rindu pada orang tuanya. Dan Dika pun disambut ayah dan ibunya dengan riang dan gembira.
Melihat perlakuan yang selalu mengistimewakan Dika, membuat Anto muak dan geram, membuatnya menjadi gelap mata. Dirampasnya dan dilemparnya tas ransel yang dibawa oleh Dika dan mengenai guci keramik, dan Prrang . . . pecah. Buku-buku yang ada di tas itu pun berserakan. Ketika Anto ingin memunguti dan membuang buku itu. Ia menemukan sepucuk surat, dibacanya surat itu yang ternyata adalah surat cinta. Anto marah, dengan geram ia berkata.
“ sudah berapa sawah dan kerbau yang dijual hanya untuk biaya kuliahmu. Tapi apa. . .? tapi apa yang kau lakukan haaaah ?” kata Anto murka. Kemudian ia berlalu pergi dengan membawa seluruh uang yang ia rampas dari orang tuanya. Dika pun minta maaf kepada ibunya. Orang tuanya hanya bisa menasihati agar ia tidak mencampur-campurkan urusan sekolah dengan percintaan.
###
Anto asyik bermain judi dengan modal uang yang ia bawa dari rumahnya dengan ketiga temannya. Tetapi ketiga temannya itu telah bersekongkol untuk mencurangi Anto. Dan merasa dirinya dicurangi, ia marah dan terjadilah perkelahian yang sengit. Tapi tiba-tiba polisi datang dan menangkap mereka semua. Oleh hakim, Anto divonis tiga tahun penjara dengan tiga perkara, yaitu perkelahian, perjudian dan narkoba.
Setelah itu Anto bertekat untuk membenahi dirinya dan mendapat Rahmat dari Allah SWT. Niatnya itu diperkuat karena adanya suatu pencerahan dari seorang ustadz yang berkunjung untuk mengisi pengajian mingguan di Lapas. Hari-harinya pun hanya dihabiskan dengan beribadah dan berdoa kepada Allah SWT.
###
Pagi yang sangat cerah, orang tua Anto dan Dika datang untuk menjemput Anto.
“ ibu, bapak, dika, maafin Anto ya. Anto sudah banyak dosa sama kalian semua” kata Anto minta maaf kepada keluarganya yang menerimanya dengan haru bercampur bahagia. Setelah saling memaafkan, mereka pun pergi meninggalkan lembaga permasyarakatan IIB Barito Timur yang berada di kota Tamiang Layang, tempat Anto ditahan. ,mereka pun kembali lagi ke kota Ampah dan pulang ke rumah untuk membenahi keluarga, supaya lebih baik ke depannya.

Sabtu, 22 Januari 2011

Potret Hidup

Karya: Rifiah Fida

Siang itu angin bertiup semilir, menampar dedaunan dan bunga yang tumbuh. Panas yang menyengat seperti siang ini, seolah ingin dihembusnya, ingin dilindunginya daun dan bunga dari layu.
Seorang gadis tampak tengah duduk bersantai di bawah rindangnya pohon, anak-anak rambutnya yang halus kelihatan berkibar, terurai dihembus paduan angin kecil yang nakal. Tampaknya tak membuat sang gadis terhanyut, terlihat dari parasnya. Ia tengah termenung. Dalam lamunannya ia pun tersadar mengapa harus melamun? Timbul rasa inginnya untuk memotret masa depan yang kelam menjadi masa depan yang cerah. Digapainya sebuah kamera di sampingnya, bergegas dirinya melangkahkan kakinya, menuju kerumunan orang yang ada di sekitar.
Dipandanginya seorang bocah kecil mengais rejeki di tengah jalan, meminta-belas kasih di deretan mobil dan motor. Mengharapkan keikhlasan seorang untuk memberinya dangan cara melantunkan melodi gitar yang dimilikinya. Wajahnya menaburkan senyuman saat mendapatkan sereceh uang yang sangat berharga baginya.
Adinda hampir saja terguncang. Sungguh sukar untuk melupakan senyuman dari bocah-bocah yang begitu lugu dan polos itu. Tak terasa, airmatanya menetes dan cepat-cepat ia hapus. Ia pun langsung mengambil gambar bocah-bocah itu. Adinda terinspirasi untuk mendalami bagaimana cara untuk menghargai dan menghormati, dengan membantu orang yang kesusahan.
Kegiatannya pun mulai ia hentikan sejenak untuk hari esok. Ia pun pergi ke rumahnya. Sesampai di rumah, adinda pun membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Di raihnya kamera yang diletakkannya di atas meja. Dilihatnya foto bocah pengamen yang tadi ia potret. Tak terasa meneteslah air matanya dan lansung di hapusnya dengan tangan. Diletakkannya kembali kamera di atas meja, ia pun ingin istirahat sejenak untuk melanjutkan kegiatan esok harinya. Ia pun terlelap dalam tidurnya.
###
Pagi mulai tiba, mentari pun mulai terbit memancarkan sinarnya.
“dinda, bangun nak. Sudah hampir pagi nih” terdengar suara ibunya. Adinda pun langsung terbangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka. Dibukanya jendela untuk menikmati indahnya pagi.
“mm. . . segar” kata Adinda seketika setelah jendela terbuka. Setelah itu, bergegaslah ia menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan pagi. Beberapa nggota keluarganya sudah ada di meja makan menunggu kedatangannya.
“Dinda” panggil ibu Adinda.” ayo makan sini” ajaknya lagi.
“iya bu,” jawab Adinda. sesampai di meja makan, Adinda dan anggota keluarga yang lain pun makan bersama dengan hikmatnya. Setelah selesai Adinda bergegas untuk ke dapur dan mencuci piring dan gelas. Ketika semuanya selesai, ia lalu menuju kamar mandi.
Matahari mulai menampakkan permukaan kulitnya. Menyinari permukaan bumi dengan mempesona. Adinda sibuk merias diri di depan cermin. Setelah merasa oke, diraihnya kamera di atas meja dan keluar kamar. Siap untuk beraktifitas hari ini.
“ ma, aku pergi dulu ya?” pinta Dinda. tanpa menoleh ke ibunya dan menuju pintu depan.
“ ya” jawab ibunya
Mulailah Adinda untuk melakukan kegiatannya. Ketika dalam perjalanan, ia melihat seorang nenek berjalan tertatih-tatih ingin menyebrang jalan dan menuju jalan setapak yang membelah hutan di seberang. Dihampirinya nenek itu.
“ mau ke mana nek?” Tanya dinda lembut
“ ke sana” jawab nenek, dengan mengarahkan telunjuknya menuju tujuan.
“ oh, githu ya. Mari aku antar nek” dinda menawarkan dirinya. Dengan tuntunannya, nenek pun akhirnya sampai di seberang.
“ Rumah nenek di mana? Biar Dinda antar”
“ di ujung jalan setapak ini, tapi kita harus melalui hutan bambu itu”
“ iya nek”
Dengan hati-hati dinda menuntun nenek. berjalan dengan mengikuti alur jalan setapak dan sampailah di ujung jalan. Terlihat sebuah gubuk tua, bangunan satu-satunya yang ada di hutan ini.
“ inilah rumah nenek, hanyalah sebuah gubuk reot nak” kata nenek setelah sampai di depan gubuknya. “ ayo masuk nak!” ajak nenek lagi.
“ iya nek,” jawab Dinda. pemandangan yang mengiris baginya setelah masuk, ruangan dalam rumah nenek sangat dekil dan kotor. “ mungkin karena tidak ada yang mengurus rumah karena nenek hanya tinggal sendirian, keadaan nenek sudah tak memungkinkan untuk mengurus rumah sendiri” batin Adinda. Ruang tamu hanya beralaskan sebuah tikar kecil, itupun sudah tak layak pakai lagi, banyak lubang di sana-sini. Kamar tidurnya juga hanya tersedia kasur yang sangat tipis, di sudut-sudut kasur berdesakan kapuk-kapuk ingin keluar. Dan dapur hanya terdapat satu tunggu, yang di sisi-sisinya banyak abu arang, terlihat di sampingnya sepotong bambu yang dipakai untuk menyalakan api. Tak terasa menetes air mata Adinda ketika melihat semua karena haru. Melihat seorang nenek yang hidup sebatang kara di tengah-tengah hutan. Ketika merasa puas menemani nenek, dan matahari juga ingin meluncur ke sisi langit. Adinda minta pamit pulang kepada nenek.
“ nek, Adinda pulang dulu ya?”
“ Tapi inikan sudah hampir malam, menginaplah di sini semalam”
“ gak apa-apa kok nek, di depan sana ada sopirku sudah menunggu. Jadi, ma’afkan Adinda nek, mungkin lain kali Adinda akan menginap di sini untuk menemani nenek”
“ baiklah nak, tak ada hak nenek untuk menghalagimu untuk pulang. Ya udah, hati-hati ya nak. Terima kasih telah menemani nenek seharian hari ini”
“ iya nek, sama-sama” Dinda keluar menuju jalan raya. Di sana tampak terlihat sopirnya telah menunggunya, setelah dimintanya lewat telpon tadi. Dinda langsung masuk ke dalam mobil tanpa kata. Meluncurlan sedan Hitam Corolla Altis. Dengan kecepatan yang sedang, tak berapa lama akhirnya Dinda sampai di rumah.
“ mah, aku pulang” teriak Adinda dari ruang depan setelah masuk rumah. Kemudian di dekatinya ibunya.
“ ke mana saja kamu hari ini seharian? hampir malam baru pulang” omel ibunya.
“ berpetualang mah” jawab Adinda sambil senyum.” Ada yang ingin Dinda ceritakan sama mama”
“ mau cerita apa din?” Tanya ibunya antusias.
“ begini lho mah, tadi aku jalan-jalan di pinggir kota. Aku pengen hunting foto-foto hutan di sana. Tapi waktu aku asyik-asyik cari objek, tiba-tiba aku melihat seorang nenek yang ingin menyebrang. Ku hampiri nenek itu, lalu ku bantu sampai seberang. Melihat nenek yang jalannya sudah lemah aku tak tega untuk meninggalkannya di sana. Kemudian aku berinisiatif untuk mengantar nenek sampai ke rumahnya, ya sambil cari-cari objek yang bagus juga. Adinda sangat terharu ketika melihat keadaan rumah nenek,yang hanya sebuah gubuk tua yang sudah tak layak pakai”
“ tujuan Adinda menceritakan ini adalah untuk minta bantuan mama. Mah, boleh nggak aku membantu nenek itu? Aku sangat kasihan dengan beliau yang telah ditinggal suaminya sejak 7 tahun yang lalu” cerita Adinda dengan raut muka sedih. Tak terasa ibunya meneteskan airmata setelah mendengarkan cerita Adinda, timbul rasa bangga di hatinya, melihat anaknya yang begitu peduli kepada sesama. Kemudian di peluknya Dinda, keduanya pun hanyut dalam tetesan air mata.
“ baiklah anakku, nanti kita akan membantu nenek itu” jawab ibunya sambil di iringi isakan tangis.
###
Keesokan harinya, Adinda sibuk menyiapkan barang-barang yang ingin ia hibahkan kepada nenek. Di dalam perjalanan, hati adinda sangat bahagia karena hari ini ia akan membantu orang yang sedang memerlukan uluran tangan.
Mobil land Rover hitam milik ayah Adinda pun melaju dengan kencang, melesat meliuk-liuk melewati mobil-mobil yang ada. Tak terasa, sampailah di hutan pinggir kota. Mobil hanya diparkir di pinggir jalan. Adinda, ibu dan ayahnya kemudian berjalan memalui jalan setapak yang membelah hutan. Setelah melaui hutan bambu, terlihatlah gubuk nenek. Sesampainya di depan, diketuk Adinda pintu rumah nenek.
“ nenek, ini Adinda yang kemaren datang”
“ma. . .ma . .suk. . .lah. . . nak” jawab nenek dengan terbata-bata. Terdengar seoertinya nenek sedanga sesak nafas.
“ nenek sakit ya?” Tanya Adinda, tapi tak ada jawaban lagi dari dalam. Masuklah Adinda bersama Ayah dan juga ibunya. Betapa terkejutnya Adinda ketika melihat keadaan nenek yang sedang terbaring lemah di atas kasur. Langsung dihampirinya.
“ kenapa nek? kenapa nenek jadi begini?” Tanya Adinda. “ sejak kapan nenek sakit seperti ini”
“ su. . . su. . . dah . . . lama . . . nak.” Terdengar sekali, nenek susah menyelesaikan perkataannya. Seperti ada yang menghalangi pada pernafasannya.
“ sepertinya penyakit nenek sudah sangat parah, kita ke rumah sakit ya nek. Biar semua biayanya, orangtua adinda yang tanggung”
“ ga . . gak u, sah nak. Ne, nek su. . . sudah gak ku kuat la. . .” tiba-tiba suara nenek terhenti, seperti ada yang memutus suaranya, nenek pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“ nenek . . . .!!” teriakan adinda memecah keheningan. “ jangan tinggalkan adinda nek” dinda langsung memeluk nenek yang tak bernyawa lagi, air matanya pun tak terbendung lagi dan meluncur deras di pipinya.
“ Relakanlah kepergian nenek itu Adinda, Ibu juga sedih melihat semuanya ini walaupun ibu tidak kenal dengan nenek. Dengan kerelaanmu, nenek akan pergi dengan tenang” kata Ibu Adinda menenangkan Adinda dari samping.
“ Bukannya begitu bu, Adinda bisa kok merelakan kepergian nenek. Tapi, Adinda kesal Kepada Adinda sendiri karena belum sempat memberikan bantuan kepada nenek, mungkin andaikan kita datang lebih pagi mungkin kita sempat membawa nenek ke rumah sakit dan nyawa nenek pun bisa tertolong”
“ jangan salahkan dirimu sendiri, semua ini telah diatur oleh yang maha kuasa. Mati dan hidupnya manusia, semua kuasa takdir Tuhan” kata ibu adinda lagi. Adinda pun memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Kita semua tidak tahu apa yang terjadi esok hari, semua yang direncanakan kadang tidak selamanya berjalan mulus karena semuanya berada dalam kuasa tuhan.

Senin, 10 Januari 2011

Kejamnya Hidup

karya : Wahyu Sp.

Senja yang sepi, sejak dua musim terakhir telah jarang kudengar kicauan burung yang seniantiasa menemaniku dari pulang berburu. Kondisi hutan yang kurang nyaman membuat banyak binatang yang bermigrasi. Biasanya suasana sangat ramai oleh suara monyet-monyet yang bercanda ria, tapi sekarang semua berubah. Pohon-pohon yang menjadi tempat berteduh banyak yang dibabat oleh manusia, ditebang seenaknya tanpa sebuah pemikiran yang panjang, ditambah oleh bisingnya suara pemotong kayu, akan semakin membuat suasana hutan tak nyaman. Kemajuan pesat yang dimiliki manusia, kini membuat mereka lupa dengan kami, para satwa yang sangat membutuhkan kenyamanan di hutan.
Aku sebagai kucing hutan pun sebenarnya ingin pindah dari hutan ini, tapi keadaanku sekarang tak memungkinkan. Sekarang aku sedang hamil tua dan tak mungkin untuk berpergian dengan tujuan yang jauh. Lagi pula aku juga tidak memiliki tujuan, aku tak tahu apakah di luar hutan ini masih ada hutan yang belum dirusak oleh manusia. Lebih baik aku bertahan di hutan ini dulu untuk sementara dan menunggu anak-anakku besar nanti. Sembari berdoa semoga masih ada tempat yang nyaman nantinya.
Hari semakin gelap, dan tiba-tiba perutku terasa sakit. Sepertinya aku akan segera melahirkan. Segera kulihat sekitarku, mencari apakah ada tempat yang aman dan nyaman untuk melahirkan. Kulihat di ujung kananku ada tebing yang menjorok, ku rasa di sana aman untuk anak-anakku nanti untuk berlindung dari hujan. Segera, secara perlahan aku berjalan menuju tebing tersebut.
Sesampainya, kucari posisi yang nyaman. Setelah dengan bersusah payah ku mengejan, akhirnya lahir juga ketiga anakku. Aku tersenyum puas karena ini adalah persalinan pertama yang kualami. Mereka terlihat sangat lucu walaupun masih berlumuran darah, warna bulunya masih belum terlalu terlihat. Kujilati tubuh mereka dengan penuh kasih sayang untuk membersihkan darah yang melekat pada mereka. Melihat mereka mencoba bergerak secara perlahan, aku tersenyum.
“ masih belum waktunya anakku, kau masih perlu tidur” bisikku dengan kasih sayang.
Aku yakin mereka adalah anak-anakku yang sangat hebat, yang bisa diandalkan di suatu saat kelak. Terus kujilati tubuh mereka sampai bersih dari darah yang melekat. Merasa kehangatan yang telah kuberikan mereka pun tertidur dengan pulasnya. Disamping mereka masih ada ari-ari yang tentunya berlumuran darah, kemudian kumakan ari-ari tersebut. Aku lelah dan ngantuk, setelah semua berjalan begitu cepat hari ini. Kulingkarkan tubuhku untuk memberikan kehangatan kepada anak-anakku. Aku berharap esok adalah hari yang bersahabat untukku.
###
Matahari mulai merangkak, berikan cahaya untuk separoh bumi. Hangat menyelimutiku, karena silau akupun membuka mataku. Ternyata anak-anakku bangun lebih pagi dari pada aku. Walau masih belum bisa untuk membuka mata, tapi mereka tetap mencoba untuk bergerak dengan perlahan. Inilah puncak kebahagiaan seorang ibu, melihat anak-anaknya pantang menyerah untuk beradaptasi dengan dunia yang baru mereka injak. Aku berjanji akan memberikan kasih sayang yang terbaik untuk mereka. Kujilati mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang, mungkin hanya dengan cara seperti ini aku bisa memperlihatkan betapa aku menyayangi mereka. Lalu kuajari mereka untuk bisa mengisap ASI dariku. Ternyata mereka dengan cepat bisa mengerti, mungkin ini memang naluri seorang bayi. Mereka minum dengan rakusnya, kelihatannya mereka sangat haus. Melihat mereka sekarang, mungkin aku takkan tega meninggalkan mereka untuk berburu.
Seharian ini aku hanya bermalas-malasan dengan anak-anakku, hari ini memang akan kuhabiskan untuk menemani mereka. Menyelimuti ketika tidur, memberikan ASI sampai mereka puas, karena malam ini aku berencana untuk berburu. Perutku mulai keroncongan, kayanya dinner dengan lauk tikus tanah akan terasa nikmat. Aku segera membayangkan betapa lezatnya daging tikus tanah yang penuh dengan lemak, sampai menetes air liurku. Tak sabar aku menantikan malam ini. Sambil membayangkan semua itu aku kembali tertidur.
Aku terbangun dari tidurku, tak terasa hari sudah mulai sore. Pemandangan langit yang sangat indah di sebelah barat, meronakan warna orange. Dengan biasan cahaya memantul dengan adanya hujan di wilayah sana membuat pemandangan sore ini semakin mengagumkan. Sungguh tiada banding apa yang diciptakan Tuhan, sungguh sebuah masterpiece alam semesta, seorang maestro seperti Piccaso pun tak akan bisa melukis seperti apa yang kulihat sekarang. Tidak ada yang dapat menyamai maestro alam semesta ini. Selepas dari apa yang kulihat sekarang, perutku kembali berdemo. Melihat anak-anakku yang sedang tidur dangan pulasnya, aku kembali tak tega untuk meninggalkan mereka. Tapi aku harus mencari makan untuk kelangsungan hidupku dan tentunya mereka.
Hari mulai gelap, dan bulan akan menggantikan tugas matahari. Aku berjalan dengan pelan-pelan, takut akan membangunkan anak-anakku. Setelah merasa jauh, aku mulai berjalan seperti biasa. Kadang-kadang aku mengendap-ngendap sambil mengintai apakah ada mangsa yang empuk. Kulihat sekitarku dengan sorot mata yang sangat tajam, takkan ku biarkan aku lengah walau sesaat. Tak terasa, ternyata aku telah berjalan sangat jauh dari tempat anak-anakku berteduh. Sekarang berburu memang lebih sulit, karena mangsaku juga semakin berkurang, jadi harus berjalan jauh dulu. Berbeda sekali dengan dulu, paling berburu sebentar dengan mudah aku mendapatkan mangsaku.
Aku mulai merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat. Dari pendengaran sebelah kiriku terdengar suara kresek-kresek dedaunan. Sepertinya itu adalah suara mangsaku, dengan mengendap-ngendap aku mengintai dari kejauhan. Ternyata seekor tikus tanah yang ingin keluar dari sarangnya.
“ wah ada mangsa yang empuk nich,” batinku
Kelihatannya dia juga sangat waspada dengan memperhatikan sekitarnya. Tapi sepertinya dia tak menyadari akan keberadaanku. Aku mulai berjalan perlahan, supaya mangsaku tidak tahu, sembari menunggu momen yang pas untuk menerkamnya. Ketika momen itu datang, aku langsung menerkamnya dan menggigit lehernya. Setelah kurasa mangsaku telah lemas dan tak ada pelawanan, kulepas gigitan di lehernya. Ku pandangi mangsaku yang telah sekarat dengan rasa puas, terlihat sangat gemuk dan sangat lezat tentunya. Kumulai dengan mengoyak-ngoyak kulitnya, ku makan dengan lahapnya sampai tak ada yang tersisa.
Setelah puas menyantap mangsaku, terlihat langit sangat mendung pertanda akan turun hujan. Dan tak berselang lama turun hujan dengan derasnya dengan diselingi kilat-kilat yang menyambar dan bunyi gemuruh petir. Sepertinya aku tak bisa pulang dan harus berteduh. Telihat didekatku sebatang pohon yang sangat besar dan merupakan tempat yang ideal untuk berteduh sementara. Dengan cekatan aku langsung menuju pohon tersebut untuk berteduh. Aku berlindung disela-sela akar yang sangat besar.
Petir semakin menggila, suasana malam semakin terasa menakutkan. Seketika aku ingat akan anak-anakku, pasti mereka takut dengan suara-suara gemuruh petir yang semakin mengamuk. Tiba-tiba petir menyambar ujung pohon yang tak jauh dari keberadaanku. Dengan seketika pohon tersebut tumbang. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan anak-anakku, mengkhawatirkan akan keselamatan mereka. Aku dihantui dengan rasa bimbang yang amat sangat. Aku ingin pulang dan memberikan rasa aman kepada anak-anakku, tapi situasi semakin tak memungkinkan. Hujan turun semakin lebat, ditambah dengan amukan angin, suara petir pun sepertinya masih enggan untuk berhenti. Sekarang aku putuskan untuk pulang, dengan berjingkat-jingkat menghidari genangan air yang dalam, tiba-tiba suara petir menggelegar dan hujan semakin tak bersahabat. Aku mengurungkan niatku, aku tak mungkin bisa pulang dengan keadaan cuaca seperti ini, aku juga harus memikirkan keselamatan diriku sendiri, andaikan aku tewas dalam perjalanan pulang lalu siapa yang akan merawat dan membesarkan anak-anakku. Aku kembali ke tempatku berteduh tadi, dingin mulai merayapi tubuhku, karena buluku basah akibat kupaksa untuk kembali tadi. Kulingkarkan tubuhku untuk berlindung dari kedinginan. Kuputuskan aku akan tidur di sini malam ini.
Dalam lelap tidurku, aku terbangun karena terdengar suara gemuruh yang sangat nyaring dan terasa tanah sedikit bergetar. Sepertinya ini bukan suara petir, tapi suara tanah longsor. aku kembali menghawatirkan keadaan anak-anakku. Hatiku merasa sangat gelisah dengan keadaan seperti ini. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada anak-anakku, sebagai seorang ibu yang memiliki naluri keibuan, aku merasakannya. Aku mencoba untuk tenang, tapi tak bisa. Aku mencoba untuk tidur kembali, tetap juga tak bisa. Kegelisahan ini sangat mengahantuiku, apalagi suasana malam semakin mencekam dan hujan semakin tak bersahabat.
Hari mulai terang, dan hujan pun mulai reda. Malam yang terasa sangat panjang bagiku. Aku memutuskan untuk langsung pulang. Dengan cekatan aku berjingkat-jingkat melalui jalan yang sebagian masih tergenang air. Ketika sesampainya di tempat anak-anakku kemaren berteduh, aku melihat pemandangan yang lain di hadapanku, terlihat tebing kemaren tertimbun tanah akibat longsor. Tiada lagi sisi tebing yang terlihat, semua tertimbun tanah yang sangat tebal, seketika hatiku hancur melihat kenyataan di hadapanku. Anak-anakku telah mati tertimbun longsor, tak kusangka kekhawatiranku malam tadi ternyata terjadi. Aku menjadi tak berdaya, rasanya nyawaku terbang. Dengan langkah gontai aku mencoba untuk mengais-ngais tanah, berharap anak-anakku bisa bertahan, walaupun aku tahu itu tak mungkin.
Aku harus menghadapi kenyataan bahwa anak-anakku terkubur hidup-hidup akibat longsor. Ekosistem yang tak bersahabat lagi menyebabkan semua ini terjadi, karena pohon-pohon yang berada di atas tebing ditebang dengan sesukanya, akibatnya tanah mudah longsor. Dan itu terjadi sekarang. Semua akibat keserakahan manusia.
” Tuhan, mengapa harus aku yang menanggung penderitaan karena keserakahan manusia, apakah semua ini adil untukku?” dengan isakan tangis aku berteriak sekencang kencangnya. Menerobos angin, lari menuju langit ketujuh.
###

Sabtu, 08 Januari 2011

Kegersangan Hati

Karya : Helda Aprillia

Malam ini kurasakan lagi sakit hati yang mendalam. Ditemani cahaya bulan dan bintang yang gemerlapan menghiasi langit malam. Ingin rasanya aku melepaskan beban berat di hatiku. Ingin rasanya aku berteriak memecah keheningan malam. Tetapi, perasaan ku tak mampu melakukan semua itu. Aku hanya bisa menangis. Tatkala pikiranku melayang pada kejadian yang pernah ku alami satu tahun yang lalu.
Waktu itu aku kelas 3 SMP dan baru saja melewati libur kenaikan kelas. Saat itu pula aku baru saja jadian dengan seorang lelaki, “Randi” namanya. Dia baru lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah ke luar kota. Aku sangat bahagia melewati hari-hari dengannya. Randi adalah cinta pertamaku. Aku tak ingin kehilangannya, karena kau sangat mencintainya. Begitu juga Randi, ia juga sangat mencintaiku.
Tak terasa enam bulan sudah kami menjalani kisah cinta ini. Kami berdua hampir tidak pernah bertengkar. Randi sangat pengertian padaku, dia juga tidak pernah memaksakan kehendak kehendaknya sendiri. Tetapi saat usia hubungan kami memasuki bulan ke-delapan. Aku merasakan suatu perubahan pada diri Randi, tiga hari sekali dia baru menghubungiku dan kadang-kadang seminggu sekali, itupun hanya lewat sms. Aku bingung menghadapi tingkah laku Randi yang berubah drastis, tetapi aku mencoba untuk mengerti dan selalu mengerti. Mungkin dia benar-benar sibuk dengan kuliahnya. Aku tetap berusaha berbaik sangka.
Sampai suatu saat, kudengar kabar bahwa Randi punya kekasih baru.ia satu kampus dengan perempuan itu, bahkan satu jurusan.
“ oh Tuhan, benarkah yang ku dengar ini?” bisikku dalam hati. Aku masih belum percaya. Kutanyakan lagi dengan detail dengan temanku yang mengaku berteman baik dengan Dewi, kekasih Randi yang baru. Akhirnya ku dapatkan nomor telpon dewi. Aku pun langsung menghubunginya.
“ aku cukup menikmati hubunganku dengan Randi. Maaf kalau aku gak tau kalau randi sudah milikmu” terdengar suara dari seberang sana, tanggapan dewi setelah Ku jelaskan tentang hubunganku dangan Randi. Aku hanya bisa terisak mendengar pengakuan itu.
“ berarti sudah tujuh bulan ini Randi membohongi kita” ucap Dewi setengah menyesal. Langsung ku putus pembicaraan kami.
“apa? Tujuh bulan?” teriakku sendiri dengan ditemani tetesan air mata. Aku kaget dengan semua ini. Tak ku sangka Randi bisa seperti itu.
“ Randi, kamu munafik. Aku benci kamu. Aku tak ingin mengenalmu lagi” teriakku sendirian, tak ku perdulikan lagi sekitarku. aku ingin meluapkan semuanya. Aku ingin menghilangkan bayang-bayang Randi. Semua orang melihati aku, tetapi aku tetap masa bodoh dengan semuanya. Yang kutahu sekarang adalah betapa sakitnya dikhianati.
Sekarang aku sudah tahu semuanya. enggan rasanya aku menghubungi laki-laki pembohong itu. Ternyata jarak yang jauh telah membuatnya lupa akan diriku. Kepercayaanku selama ini telah disia-siakannya. Ada sedikit rasa jera menghimpit benakku. Aku tak pernah menyangka bahwa randi bisa sejahat itu denganku. Kebohongannya sungguh hebat dan benar-benar tersusun rapi.
“ Felish, ayo masuk. Sudah malam” panggil ibunya dari dalam rumah. Tanpa kusadari aku telah melamun sejak lama dan terbuai dengan kenangan pahitku bersama Randi. Aku langsung masuk ke kamar dan tidur. Rasa sakit ini akan kukubur dalam-dalam dan akan ku jadikan sebagai pelajaran untuk kehidupanku ke depannya. Walaupun luka di hati ini sulit untuk disembuhkan.
Delapan bulan, bagiku itu bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah hubungan. Oleh sebab itu, aku sangat sulit melupakan kenangan masa laluku bersama Randi. Aku sadar, jika aku masih saja larut dalam kesedihan ini, aku tak akan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku harus tegar. Mungkin ini adalah resiko yang harus ku tanggung. Dan untuk sementara waktu aku tak ingin menjalin cinta dulu, setelah apa yang aku alami. Aku masih ingin menikmati kesendirianku tanpa kekasih. Meskipun begitu, aku masih punya banyak teman yang bisa membuatku tertawa dan melupakan semua hal yang telah terjadi, meskipun hanya sesaat.