Karya: N. Rani
“dug dug dug” bukan suara beduk mushala, melainkan suara jantungku yang sedang gugup. ketika melihat seraut wajah sinis menuju ke arahku, seakan berupaya mencekik leherku. dua sahabatku yaitu Meyda dan Resa yang tadinya ada di sampingku. kini mereka lenyap menghilang dari teras rumahku, bersembunyi untuk menghindar dan tak ingin ikut campur hingga meninggalkanku tanpa mengajak.
“huh, dasar tuh anak bedua gak setia kawan banget, cuman setia kawin aja” ucapku dalam hati. tak kuduga ternyata raut wajah sinis itu sudah ada dihadapanku. “degup. . . . .” jantungku terasa terhenti.
“ada biya nggak, tadi di sini?” tanya Leo, sambil melotot menatapku. “kenapa loe Dea? kok bengong gitu, abis liat hantu ya?” sambungnya sambil menghalaukan tangannya ke kanan dan ke kiri depan wajahku.
“ah loe, iye abis liat hantu” jawabku ketus.
“lha, , , mana? hantu merk apaan?” tanyanya mencari-cari ke sana sini. “gak ada tuh! bo’ong loe!” sambungnya.
“nih hantunya, yang ada di depan gue, yang pake topi. hantu merk taon 50’an” kutunjuk ke arahnya.
“ya elah loe, tega banget ama temen sedari dulu. huuuu” ringisnya. “ada gak tadi biya ke sini?” sambungnya lagi.
“ya. . . . ada sih tadi, sejam yang lalu lah” jawabku sambil memainkan kuku.
“ngapain dia? ngapain? hah?”
“ngapain dia? Dea, ngapain dia tadi?” lanjutnya, tanpa memberiku waktu menjawab
“jawab dong Dea!” leo seperti penasaran dan panik.
”terus aja! tanya aja terus! gimana mau jawab, loe nya ngoceh mulu dari tadi” balasku ketus.
“he he, , , serius nih” katanya sambil garuk garuk kepala.
“tadi dia memang ada, tapi cuman lewat aja. gak pake mampir” kataku santai pada leo.
“yaaaaaaah . .! ya udah deh! aku balik dulu. Meyda! Resa! lanjutkan ajang ngerumpi kalian!” teriak Leo sambil beranjak pulang ke rumahnya yang tak jauh dari rumahku, hanya selang tiga rumah tetangga.
Meyda dan Resa pun keluar, beranjak dari dalam rumahku.
“hah? Leo ya tuh? seremnya!” kata Resa.
“Leo. . Leo. . kacian kacian!” ucap Meyda sambil menggelengkan kepala.
###
Lari, lari, harus lari. sebelum bel sekolah berbunyi, aku harus sudah sampai. mungkin saking cepatnya aku berlari, becak saja sampai kubalap. “teeet, teeeet” bunyi bel sekolah, sedangkan aku masih di seberang, yang tak mudah untuk dilalui karena banyak kendaraan lalu lalang.
“ kalo aku nyebrang sekarang, cuman cari mati aja nih! ya Allah semoga setelah mobil sedan melintas, aku bisa nyebrang” tak lama setelah mobil hitam itu melintas, aku bisa menyebrang dan terus berlari, langsung masuk ke dalam kelas.
“hos, , hos, , hos! fyuh, bu Linda udah datang belum?” tanyaku pada Meyda yang duduk sebangku denganku.
“wiih, abis lari maraton yee? bu Linda belum masuk tuh!” jawabnya.
“alhamdulillah! he he. . iye gue abis lari maraton versi ngesot!” balasku.
“ha ha ha. . . ada-ada aja loe, uupps!” ucap Meyda sambil menoleh ke arah pintu, yang di sana telah berdiri bu Linda, guru IPA kami.
“keluarkan buku soal kalian, kita ulangan!” kata bu Linda lantang. murid satu kelas semuanya kaget, tak terkecuali aku.
“hah? yaah ibu!” ucap salah seorang dari teman sekelasku yang tak terima, kaget mendengar kata ULANGAN.
Tak dinyana, sepanjang ulangan yang sangat mendadak ini, semua beraksi melakukan berbagai cara untuk mendapatkan jawaban yang benar. dari cara menengok tetangga sebelah, lempar kertas sembunyi tangan, mengintip buku di bawah laci dan sebagainya. aku dan Meyda juga melancarkan aksi lempar kertas pada leo yang ada duduk di depanku.
###
“tet, ,tet, ,tet, ,” bel istirahat pun berbunyi, semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar kelas. begitu juga aku, Meyda dan Leo, kami pergi ke kantin.
“mbak! baksonya 3 plus es jeruknya 3 gelas! GPL ya!” pesan Meyda. “ laper banget nih abis ulangan mendadak” sambungnya lagi.
“iya ya!” tanggapi Leo. “eh, kenapa loe Dea, hari ini telat? jadinya gue duluan tadi, gak sempat nungguin loe” tanyanya padaku.
“iya nih, pasti begadang malamnya” tambah Meyda.
“gak kok! gue malam tadi nonton film Harry Potter ampe jam 11” ujarku sambil melahap bakso.
“yah . . . gue gak nonton deh” balas Meyda sambil menyedot es jeruk.
“ye, itu begadang juga namanya” celetuk Leo.
“yeee, kata sapa coba?” sambarku.
“ya. . . kata bang haji Rhoma Irama lah” balas Meyda dengan suara ngebass.
“sungguh terlalu” lanjutku.
“ha ha ha ha” tawa pun pecah dari kami bertiga.
###
Kulihat ke atas, terlihat laron-laron beterbangan mengitari lampu yang ada di teras depan rumahku. aku duduk di bangku, ditemani Leo setiap malam, hanya untuk ngobrol. kebanyakan Leo yang sering bercerita dan aku wajib mendengarkan. dia selalu menceritakan tentang Biya padaku. “Leo, Leo, kenapa tak pernah bosannya kau menceritakan Biya padaku, aku sudah mulai bosan karena kau hanya bisa mengagumi dari jauh tanpa bisa mengungkapkan” sering ucapku dalam hati.
“ Dea!” panggil Leo mengagetkanku.
“ehh, a, apa?” jawabku. kulihat Leo mengeluarkan kotak persegi ukuran kotak sabun.
“nah gini, tolong kamu suruh Meyda besok buat nganterin ini untuk Biya. kan rumah Meyda sama rumah Biya berseberangan” ucapnya sambil menyodorkan padaku.
“oke, siip deh!” jawabku sambil mengacungkan jempol.
###
Keesokan harinya ku laksanakan tugasku yang dipinta oleh Leo untuk menyerahkan kotak yang berisi sapu tangan putih dan bertuliskan “TERSENYUMLAH” dari benang biru.
“Meyda!!!” panggilku dari kejauhan dan langsung ku hampiri.
“apa?” kata Meyda dari depan kelas.
“ini” kataku sambil menyodorkan kotak persegi yang dititipi Leo.
“buat aku nih? oh terima kasih. hah? apaan ini? sabun ya isinya? nyindir ya? aku udah mandi tau!” cerocos Meyda.
“ye’elah loe ge’er banget sih! bukan, ini tolong antarkan buat biya dari Leo” ucapku.
“yah, aku jadi kurir? isinya ini bom ya? ah gak mau! nanti aku dikira teroris lagi!” sahutnya sambil mengeluarkan mimik takut yang dibuat-buat.
“ya enggak lah” sanggahku sambil melototinya agar Meyda mau mengantarkannya.
“iya! iya! iya! deh, mungkin karena keterpaksaan. aku wajib dan harus nganter bom ini” kata Meyda dengan wajah yang pasrahnya juga dibuat-buat.
“Bukan bom Meyda! ihhh” balasku kesal.
“he he he! iya aku anterin, kebetulan aku baik hati dan tidak sombong!” ucap Meyda padaku.
“ye, pede amat nih anak!” aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
###
Beberapa hari kemudian. Di perempatan jalan sekolah, Leo berjalan di trotoar. ketika menyebrang, ia terserempet motor Biya. Leo pun terjerambab sehingga tangannya memar tergores aspal jalan.
“duh maaf maaf. . . ah Leo?” teriak Biya terkejut.
“Leo, kamu gak apa-apa kan?” lanjutnya sambil membangunkan Leo. “sorry banget ya. . .” tambahnya lagi.
“tangan kamu. . .?” refleks Biya sambil mengambil sapu tangan di saku roknya. lalu diusapkannya ke tangan Leo yang memar berdarah.
“i, i, i, itu kan . . .” ucap Leo terbata-bata dan tak percaya sambil menunjuka saputangan yang dipegang Biya.
“iya, ini sapu tangan yang kamu kasih. thank’s ya!” balas Biya juga dengan sebuah senyuman. dan senyum itulah yang selalu ingin dilihat Leo.
“ emmm. . ayo aku antar. naik!”ajak Biya pada Leo yang dari tadi hanya diam.
“lha? kok bengong? ayo! cepet!” tambahnya lagi, dan tanpa banyak cingcong Leo langsung naik dibonceng Biya. hati Leo serasa berbunga-bunga bisa sedekat ini dengan Biya. tak terasa sudah sampai di depan rumahnya.
“udah nyampe!” ucap Biya dari depan, dan dimatikannya mesin motornya.
“hah? sudah sampai?” tanya Leo kaget, padahal ia ingin lebih lama lagi bersama Biya.
“iya nih sudah sampai” jawab Biya. “eh, aku boleh pinjam buku sejarah semester satu kamu gak? buku catatan aku ilang” lanjutnya lagi.
“ahhh. . . i, iya” jawab Leo terbata-bata, dengan refleks dironggohnya tas sekolahnya, mencari buku yang dimaksud Biya, namun matanya tak lepas dan terus mengarah memperhatikan wajah Biya. “ ini nih!” sambung Leo ketika buku telah ditemukannya dan langsung disodorkannya kepada Biya.
“ah iya! aku pulang dulu ya!” kata Biya dan langsung pergi meninggalkan Leo.
###
“kriiiik. . .kriiiik. . .kriiiik. . .” terdengar suara jangkrik dari rerumputan di belakang rumah. kamar Biya, dinding bercat biru, menempel poster Boyband Smash dan foto-foto manis Biya sendiri. tak teratur namun masih terkesan indah untuk dekorasi kamar. Biya pun teringat dengan buku sejarah yang ia pinjam dari Leo tadi siang. Segera diambilnya dari tas dan bersiap untuk menyalinnya.
ketika dibukanya buku milik Leo, dia terkejut karena yang diserahkan Leo bukanlah buku catatan sejarah namun Diary pribadi milik Leo. karena tidak ada kerjaan dan diary Leo terlanjur sudah ditangannya. Maka diberanikannya untuk membukanya, dengan niat untuk mengetahui bagaimana Leo sebenarnya karena dia juga sedang menaruh hati dengan Leo. ketika membaca halaman pertama, betapa terkejutnya ia setelah membaca kata demi kata yang tertulis indah.
cinta, apa itu sebenarnya cinta
aku tak mengerti, mengapa ia dicipta
indah namun juga menyakitkan
ketika ingin ku ucap padamu
lidahku terasa kelu
beku tak bergerak
sakit, aneh, aku menikmatinya
ingin ku ucap, aku juga takut
apa kau balas, tak acuh
bolehlah kau kata aku pengecut, itu aku tak pantas
pendam, itulah kekuatanku
namun hanya kertas temani hari-hari cinta bersemi
ditemaninya aku berani
berani tuk ungkapkan
aku cinta padamu
Biya. . . . . . . . . .
tak terasa menetes air mata di pipinya, karena telah mengetahui lekaki yang ditaksirnya juga menaruh hati padanya. kata-kata yang menyentuh hati, memasuki relung hati yang paling dalam. mengakar dalam. merenggut dan merayap di sekujur tubuh. cinta yang sejati, cinta yang sama-sama cinta.
“mengapa tak pernah kau ucapkan Leo? aku telah menunggunya sejak lama. aku juga mencintaimu” lirih Biya, diusapnya airmata di pipinya.
###
keesokan harinya, di hari minggu yang cerah. Di lapangan basket dekat rumah aku main basket bersama Leo. aku kalah 1 angka dari Leo, 6-7. sebenarnya kami sama-sama 3 kali memasukkan bola ke dalam ring, namun aku kalah karena Leo masuk dengan lemparan 3 angka. kami lelah dan duduk di samping lapangan. dari kejauhan nampak seorang perempuan yang sangat familiar.
“hay Dea” sapanya dari kejauhan dan dengan lambaian tangan, tak lupa dengan senyuman manis khas Biya.
“ emmm, Leo! aku pinjam buku sejarah kamu donk!, yang kamu kasih kemaren bukan buku sejarah” pinta Biya.
“hah? masa?” sanggah Leo.
“lupa ya loe? buku sejarah kita kan dikumpul sama guru kemaren” cerocosku pada Leo untuk mengingatkan.
“ouh, iya ya. lha! terus buku apaan yang aku kasih kemaren, Biya?”tanya Leo. biya hanya tersenyum-senyum.
“nih, Sorry ya! aku telah tahu semuanya, terima kasih ya. aku juga cinta kamu”ucap Biya sambil menyodorkan buku diary Leo. Leo hanya bisa diam. diam tanpa kata. seperti ada makhluk halus yang sedang merasuki tubuhnya. entah apa yang dirasakannya, bahagia atau tak percaya atas apa yang diucapkan Biya. aku hanya bisa tersenyum dalam hati. menjadi saksi cinta sejati yang sedang bersemi. Melebur menjadi satu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar