Karya: Nurhadijah
“bete bete bete!” gerutu sofi di dalam kamarnya.
“kenapa sih selalu gue yang jadi korban. selalu aja gue yang disalahin. kenapa bukan Sofa saja? Dia kan yang selalu mulai duluan, dan kenapa hanya aku yang dihukum. Mana hari ini aku ada janji sama teman-teman” keluhnya kesal.
“kasian deh Sofi, kena hukum gara-gara mecahin piring” tiba-tiba Sofa masuk kekamar Sofi dan mengejeknya. Sofi makin geram saja melihat tingkah laku Sofa. namun ia hanya berusaha untuk bersabar.
“kasian, kasian, kasian!” ejek Sofa lagi, persis gaya mengikuti upin-ipin. Sofi pun mulai naik pitam, amarahnya sudah tak dapat dibendung lagi. dia pun berdiri sambil berkecak pinggang.
“kurang ajar loe ya, awas aja. Gue balas nanti” kata Sofi berteriak. dilemparnya bantal ke arah sofa.
“yee, gak kena, gak kena” ejek Sofa terus sambil menghindar dari lemparan Sofi. Sofi makin marah. Matanya melotot ke arah Sofa, bola matanya hampir keluar.
“pergi loe dari kamar gue” bentak Sofi mengusir Sofa. “pergi gak? gue lempar juga loe pake ini” bentaknya lagi sambil mengambil ancang ancang untuk melempar vas bunga.
“oke, oke gue pergi” balas Sofa. “ iih, atut ah liat muka Sofi. sereemmmm!” katanya lagi sambil berlalu keluar dari kamar Sofi.
###
“loe kenapa sih fi? kok gue perhatiin loe dari tadi manyun mulu kerjaannya?” tanya Fara, teman sebangku Sofi. “trus, kenapa kemaren loe gak datang. Kita nungguin loe tau?” sambungnya lagi.
“iya fi, kenapa?” timpal Keke pula.
“tersiksa tau? kita nungguin loe kemaren” cerocos Fara disertai anggukan Keke.
“asal kalian tau, gue itu jauh lebih tersiksa dari kalian berdua. kalian gak tau kan? kalau gue dihukum gak boleh keluar rumah” jelas Sofi.
“oh ya?” ucap Fara dan Keke bersamaan.” kok bisa? gimana ceritanya?” sambung Fara lagi.
“ ya itu semua gara-gara kakak gue yang nyebelin itu. gara-gara dia terus godain sama ngata-ngatain gue. ya gue lemparin piring aja. terus nyokap dateng, ya udah. dihukum deh gue” jelas Sofi. Fara dan Keke hanya manggut-manggut mendengar cerita Sofi.
“ouh, githu?” sahut mereka kompak. ”tapi menurut gue, kakak loe gak salah” sambung Fara kemudian.
“maksud loe?” tanya Sofi gak faham atas perkataan Fara.
“maksud gue, yang salah itu justru loe lagi. Loe itu orangnya cepat emosian. Trus kalau tiap kali loe marah pasti loe lempar apa aja yang loe pegang” jawab Fara retoris. “bener gak ke?” sambungnya minta persetujuan Keke.
“yups, betul banget” jawab Keke mengiyakan. Sofi makin mumet mendengar kata-kata kedua temannya, yang justru mendukung kakaknya.
“bukannya belain Gue? malah mojokin” batin Sofi. “udah ah, gue mau ke perpus. bete ngomong sama kalian berdua” kesal Sofi sambil berlalu pergi. Keduanya hanya heran menatapi kepergian Sofi.
###
“Sofa! ! !” teriak Sofi mengagetkan seluruh anggota keluarga.
“ada apa sih Fi? anak gadis kok teriak-teriak?” tanya mamanya heran.
“ini mah, masa kamarku berantakan kaya gini. Pasti Sofa deh yang ngacak-ngacak!” katanya sambil memperlihatkan kamarnya yaang sudaah seperti kapal pecah.
“bener Sofa?” tanya mamanya pada Sofa. Sofa hanya nyengir.
“he he. . . iya mah, tadi aku mandiin Pussy. Trus dia kabur masuk kamar Sofi. Karena kukejar, lari kesana kemari deh” jelas Sofa.
“alah. . . alasan aja loe! kucing yang disalahin” sanggah Sofi tak percaya.
“bener kok mah” kata Sofa meyakinkan mamanya. “lagian loe juga, ngapain kamar gak dikunci?” bela Sofa.
“Sofa, Loe it. .”
“Diam ! ! ! !” tiba-tiba suara mama memutus kata-kata Sofi. Mamanya sudah gak tahan lagi atas kelakuan kedua anaknya. “kenapa sih kalian ini berantem terus? apa gak bisa sehari aja gak berantem haaah? gak bisa?” teriak mamanya. “kamu juga Sofi, hal sekecil ini aja kamu ributkan” sambungnya lagi.
“tapi mah. . .” sanggah Sofi. Ia tak mau tinggal diam melihat Sofa yang tersenyum menang.
“udah, gak ada tapi lagi” kata mama memotong ucapan Sofi. semuanya pun berlalu pergi meninggalkan Sofi, yang hanya berdiri terpaku. Berbagai perasaan campur aduk dalam benaknya. Antara kesal, kecewa, geram, marah dan sedih berkumpul menjadi satu.
###
Matahari bersinar dengan cerahnya. Namun hati Sofi tak secerah sinarnya. Wajahnya terlihat murung dan sedih.
“loe dimarahin lagi ya oleh nyokap loe?” tanya Keke pada Sofi yang sangat tampak lesu. “kasihan loe Fi, pasti loe sedih banget ya? karena nyokap loe selalu marahin loe. Sementara kepada kakak loe gak” sambunya prihatin.
“apa jangan-jangaan loe. . .” ucapan Fara terhenti karena Sofi menatap tajam ke arahnya. Ia jadi merinding melihatnya.
“maksud loe?” serobot Sofi. “gue bukan anak kandung bokap-nyokap gue?” sambungnya sambil menahan amarah.
“he. . . he. . .” Fara hanya tersenyum kecut. Ia takut melihat wajah Sofi yang tampak seperti banteng yang siap menyeruduk siapa saja yang ada di hadapannya.
“udah Fi, loe gak usah dengerin kata-kata Fara. Dia memang suka ngejeblak aja. kalo ngomong suka asal” tenang Keke pada Sofi. Fara hanya cemberut mendengar ucapan Keke yang memojokkannya. Sofi hanya terdiam, meresapi pendapat Fara.
“mungkin ada benernya juga kata-kata Fara. Kalau Sofi bukan anak kandung bokap-nyokapnya, pantaslah mereka suka marah sama dia dan pilih kasih. tapi rasanya tak mungkin juga” Pikir Keke dalam benaknya.
###
Dengan sabar sofa menunggui Sofi di depan gerbang SMPN 1 Ampah, di mana sofi sekolah. Sesekali ia tersenyum teringat adiknya yang lucu dan lugu, siapa lagi kalau bukan Sofi. Sebenarnya Sofa ingin bisa akrab dengan sebagaimana kakak-adik pada umumnya. Tetapi, sepertinya itu akan sangat sulit mereka lakukan mengingat hubungan keduanya yang tak pernah akur.
“kok lama banget ya?” kata Sofa sambil melirik jam tangannya.
“mana udah jam 2 lagi, apa gue pulang aja kali ya? Tapi Sofi gimana?” Sofa bingung.
Sementara pada waktu yang sama, Sofi sedang berada di rumah Fara. “ha. .ha. . rasa’in loe, tungguin aja sampe kering. Emang enak gue kerjain?” katanya sambil tertawa senang.
“loe tega banget sih sama kakak loe sendiri” kata Fara.
“biarin aja! Dia juga sering kok berbuat yang lebih tega lagi terhadap gue” balas Sofi tak menghiraukan kata-kata Fara. Fara dan Keke pun hanya geleng-geleng kepala.
###
Dengan perlahan-lahan dibukanya pintu rumahnya. “klek” Sofi masuk dengan mengendap-ngendap seperti maling. Baru saja ia mau masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba saja terdengar suara memanggilnya.
“Sofi . . .!” seru mamanya. Sofi menoleh dan terkejut. “kenapa jam segini baru pulang? Kamu mampir di mana? Trus, kenapa membiarkan kakak kamu nunggu lama? Kamu tau kan kalau dia telat makan penyakit magnya bisa kambuh?” sambung mamanya lagi.
“aku. . ., aku. . .” Sofi tak sanggup berkata-kata, ia sangat gugup.
“apa kamu sengaja ingin ngerjai kakak kamu? Kenapa Sofi? Kenapa?” mendengar ucapan mamanya, telinga Sofi menjadi panas, amarahnya tiba-tiba saja memuncak.
“karena aku benci mah sama dia, karena mamah selalu saja belain dia. Kasih sayang mamah ke dia itu melebihi kasih sayang ke aku. Karena mamah itu selalu bersikap tidak adil sama aku” jawab Sofi dengan nada tinggi, ia telah gelap mata.
“itu karena kamu memang salah” jawab mamanya lagi. Namun Sofi tetap saja tak terima.
“mamah itu selalu saja percaya sama kata-kata Sofa. Sementara aku, mamah gak pernah dengerin penjelasanku. Apa mungkin benar kata teman-teman, kalau aku bukan anak kandung mamah, iya mah?” balas Sofi lagi, dengan suara yang lebih keras, memecah keheningan malam.
“PLAAKKKK” tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sofi, Sofi sangat terkejut bercampur sedih, tak menyangka mamanya tega sampai melakukan ini. Tak terasa airmatanya pun menetes, matanya berlinang menatap mamanya yang sedang amarah di hadapannya. Lalu segera ia berlari keluar rumah. Mamanya hanya terpaku, menyesali apa yang telah dilakukannya.
“mamah. . .!” Sofi mendekati mamanya yang sedang terduduk lesu di kursi. “ mamah kenapa menampar Sofi mah?” lanjutnya setelah bersimpuh di hadapan mamanya.
“mamah, mamah gak tau Sofa! Mamah gak tahu!” lirih mamanya.
“ya sudah mah, mamah istirahat aja dulu. Biar aku yang nyusul Sofi” lanjutnya menenangkan mamanya yang sedang shock. Sofa pun langsung segera keluar untuk menyusul Sofi. Berlari memecah angin.
Sofi terus berjalan tanpa tahu ke mana ia akan pergi. Ia terus melangkah dengan deraian air mata yang terus mengalir di pelupuk matanya. Tanpa peduli pada orang-orang yang berpapasan dengannya, yang melihatnya heran.
“Sofi. . .! !” tiba-tiba terdengar suara Sofa memecah isakan tangisnya, yang membuat langkahnya terhenti. Lalu ia menoleh ke belakang menoleh Sofa yang sedang tertunduk dan berusaha mengatur nafas karena habis lari.
“ngapain loe nyusul gue? Bukannya seharusnya loe senang ya, gue udah keluar dari rumah itu” bentak Sofi penuh amarah.
“gue mau loe balik lagi ke rumah, kasian mamah. Mamah sangat shock di rumah, dia sangat menyesal telah nampar loe. Gue janji gak akan bikin loe kesel lagi. Asal loe mau pulang!” bujuk Sofa.
“untuk apa? Gue gak diharapin ada di rumah itu. Dan loe gak usah sok care deh sam gue” balas Sofi sinis. Ia berlalu pergi.
“tapi emang kenyataannya gue care sama loe” teriak Sofa pada Sofi yang berjalan menjauh, tanpa menghiraukan. Sofi terus berjalan tanpa memperhatikan kalau di depan ada motor yang tengah melaju kencang.
“sofi . . . Awas. . .!” teriak Sofa. Segera ia berlari ke arah Sofi yang berdiri terpaku, lalu langsung di dorongnya Sofi.
“BRUAAAAKKKK” na’as untuk Sofa. Karena menyelamatkan Sofi, sekarang justru ia yang celaka. Sofi panik, langsung dipeluknya Sofa yang terpental—terbaring bersimbah darah.
“Sofa. . .! bangun. . . bangun. . .” isaknya, melihat Sofi lemah tak bergerak. “tolong. . .! tolong. . .! tolong. . .!” teriaknya, berharap ada orang yang menolong. Teriakan yang memecah keheningan malam yang tenang. Awan berjalan menutup Rembulan, seperti tak tega melihat apa yang terjadi malam ini. Kepedihan dan kesedihan hidup. Tiba-tiba air menetes dari langit, rintikan air mata langit. Kesedihan menyelimuti malam, menyelimuti dua insan yang sedang meratap. Tuhan ikut berkabung. Semua alam, pasti akan ikut—seluruh jagat raya. Hujan semakin deras, seakan Bulan dan Bintang ikut juga menangis. Menangis tersedu-sedu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar