Karya: Rifiah Fida
Siang itu angin bertiup semilir, menampar dedaunan dan bunga yang tumbuh. Panas yang menyengat seperti siang ini, seolah ingin dihembusnya, ingin dilindunginya daun dan bunga dari layu.
Seorang gadis tampak tengah duduk bersantai di bawah rindangnya pohon, anak-anak rambutnya yang halus kelihatan berkibar, terurai dihembus paduan angin kecil yang nakal. Tampaknya tak membuat sang gadis terhanyut, terlihat dari parasnya. Ia tengah termenung. Dalam lamunannya ia pun tersadar mengapa harus melamun? Timbul rasa inginnya untuk memotret masa depan yang kelam menjadi masa depan yang cerah. Digapainya sebuah kamera di sampingnya, bergegas dirinya melangkahkan kakinya, menuju kerumunan orang yang ada di sekitar.
Dipandanginya seorang bocah kecil mengais rejeki di tengah jalan, meminta-belas kasih di deretan mobil dan motor. Mengharapkan keikhlasan seorang untuk memberinya dangan cara melantunkan melodi gitar yang dimilikinya. Wajahnya menaburkan senyuman saat mendapatkan sereceh uang yang sangat berharga baginya.
Adinda hampir saja terguncang. Sungguh sukar untuk melupakan senyuman dari bocah-bocah yang begitu lugu dan polos itu. Tak terasa, airmatanya menetes dan cepat-cepat ia hapus. Ia pun langsung mengambil gambar bocah-bocah itu. Adinda terinspirasi untuk mendalami bagaimana cara untuk menghargai dan menghormati, dengan membantu orang yang kesusahan.
Kegiatannya pun mulai ia hentikan sejenak untuk hari esok. Ia pun pergi ke rumahnya. Sesampai di rumah, adinda pun membaringkan tubuhnya ke tempat tidurnya. Di raihnya kamera yang diletakkannya di atas meja. Dilihatnya foto bocah pengamen yang tadi ia potret. Tak terasa meneteslah air matanya dan lansung di hapusnya dengan tangan. Diletakkannya kembali kamera di atas meja, ia pun ingin istirahat sejenak untuk melanjutkan kegiatan esok harinya. Ia pun terlelap dalam tidurnya.
###
Pagi mulai tiba, mentari pun mulai terbit memancarkan sinarnya.
“dinda, bangun nak. Sudah hampir pagi nih” terdengar suara ibunya. Adinda pun langsung terbangun dan menuju kamar mandi untuk cuci muka. Dibukanya jendela untuk menikmati indahnya pagi.
“mm. . . segar” kata Adinda seketika setelah jendela terbuka. Setelah itu, bergegaslah ia menuruni anak tangga menuju dapur untuk sarapan pagi. Beberapa nggota keluarganya sudah ada di meja makan menunggu kedatangannya.
“Dinda” panggil ibu Adinda.” ayo makan sini” ajaknya lagi.
“iya bu,” jawab Adinda. sesampai di meja makan, Adinda dan anggota keluarga yang lain pun makan bersama dengan hikmatnya. Setelah selesai Adinda bergegas untuk ke dapur dan mencuci piring dan gelas. Ketika semuanya selesai, ia lalu menuju kamar mandi.
Matahari mulai menampakkan permukaan kulitnya. Menyinari permukaan bumi dengan mempesona. Adinda sibuk merias diri di depan cermin. Setelah merasa oke, diraihnya kamera di atas meja dan keluar kamar. Siap untuk beraktifitas hari ini.
“ ma, aku pergi dulu ya?” pinta Dinda. tanpa menoleh ke ibunya dan menuju pintu depan.
“ ya” jawab ibunya
Mulailah Adinda untuk melakukan kegiatannya. Ketika dalam perjalanan, ia melihat seorang nenek berjalan tertatih-tatih ingin menyebrang jalan dan menuju jalan setapak yang membelah hutan di seberang. Dihampirinya nenek itu.
“ mau ke mana nek?” Tanya dinda lembut
“ ke sana” jawab nenek, dengan mengarahkan telunjuknya menuju tujuan.
“ oh, githu ya. Mari aku antar nek” dinda menawarkan dirinya. Dengan tuntunannya, nenek pun akhirnya sampai di seberang.
“ Rumah nenek di mana? Biar Dinda antar”
“ di ujung jalan setapak ini, tapi kita harus melalui hutan bambu itu”
“ iya nek”
Dengan hati-hati dinda menuntun nenek. berjalan dengan mengikuti alur jalan setapak dan sampailah di ujung jalan. Terlihat sebuah gubuk tua, bangunan satu-satunya yang ada di hutan ini.
“ inilah rumah nenek, hanyalah sebuah gubuk reot nak” kata nenek setelah sampai di depan gubuknya. “ ayo masuk nak!” ajak nenek lagi.
“ iya nek,” jawab Dinda. pemandangan yang mengiris baginya setelah masuk, ruangan dalam rumah nenek sangat dekil dan kotor. “ mungkin karena tidak ada yang mengurus rumah karena nenek hanya tinggal sendirian, keadaan nenek sudah tak memungkinkan untuk mengurus rumah sendiri” batin Adinda. Ruang tamu hanya beralaskan sebuah tikar kecil, itupun sudah tak layak pakai lagi, banyak lubang di sana-sini. Kamar tidurnya juga hanya tersedia kasur yang sangat tipis, di sudut-sudut kasur berdesakan kapuk-kapuk ingin keluar. Dan dapur hanya terdapat satu tunggu, yang di sisi-sisinya banyak abu arang, terlihat di sampingnya sepotong bambu yang dipakai untuk menyalakan api. Tak terasa menetes air mata Adinda ketika melihat semua karena haru. Melihat seorang nenek yang hidup sebatang kara di tengah-tengah hutan. Ketika merasa puas menemani nenek, dan matahari juga ingin meluncur ke sisi langit. Adinda minta pamit pulang kepada nenek.
“ nek, Adinda pulang dulu ya?”
“ Tapi inikan sudah hampir malam, menginaplah di sini semalam”
“ gak apa-apa kok nek, di depan sana ada sopirku sudah menunggu. Jadi, ma’afkan Adinda nek, mungkin lain kali Adinda akan menginap di sini untuk menemani nenek”
“ baiklah nak, tak ada hak nenek untuk menghalagimu untuk pulang. Ya udah, hati-hati ya nak. Terima kasih telah menemani nenek seharian hari ini”
“ iya nek, sama-sama” Dinda keluar menuju jalan raya. Di sana tampak terlihat sopirnya telah menunggunya, setelah dimintanya lewat telpon tadi. Dinda langsung masuk ke dalam mobil tanpa kata. Meluncurlan sedan Hitam Corolla Altis. Dengan kecepatan yang sedang, tak berapa lama akhirnya Dinda sampai di rumah.
“ mah, aku pulang” teriak Adinda dari ruang depan setelah masuk rumah. Kemudian di dekatinya ibunya.
“ ke mana saja kamu hari ini seharian? hampir malam baru pulang” omel ibunya.
“ berpetualang mah” jawab Adinda sambil senyum.” Ada yang ingin Dinda ceritakan sama mama”
“ mau cerita apa din?” Tanya ibunya antusias.
“ begini lho mah, tadi aku jalan-jalan di pinggir kota. Aku pengen hunting foto-foto hutan di sana. Tapi waktu aku asyik-asyik cari objek, tiba-tiba aku melihat seorang nenek yang ingin menyebrang. Ku hampiri nenek itu, lalu ku bantu sampai seberang. Melihat nenek yang jalannya sudah lemah aku tak tega untuk meninggalkannya di sana. Kemudian aku berinisiatif untuk mengantar nenek sampai ke rumahnya, ya sambil cari-cari objek yang bagus juga. Adinda sangat terharu ketika melihat keadaan rumah nenek,yang hanya sebuah gubuk tua yang sudah tak layak pakai”
“ tujuan Adinda menceritakan ini adalah untuk minta bantuan mama. Mah, boleh nggak aku membantu nenek itu? Aku sangat kasihan dengan beliau yang telah ditinggal suaminya sejak 7 tahun yang lalu” cerita Adinda dengan raut muka sedih. Tak terasa ibunya meneteskan airmata setelah mendengarkan cerita Adinda, timbul rasa bangga di hatinya, melihat anaknya yang begitu peduli kepada sesama. Kemudian di peluknya Dinda, keduanya pun hanyut dalam tetesan air mata.
“ baiklah anakku, nanti kita akan membantu nenek itu” jawab ibunya sambil di iringi isakan tangis.
###
Keesokan harinya, Adinda sibuk menyiapkan barang-barang yang ingin ia hibahkan kepada nenek. Di dalam perjalanan, hati adinda sangat bahagia karena hari ini ia akan membantu orang yang sedang memerlukan uluran tangan.
Mobil land Rover hitam milik ayah Adinda pun melaju dengan kencang, melesat meliuk-liuk melewati mobil-mobil yang ada. Tak terasa, sampailah di hutan pinggir kota. Mobil hanya diparkir di pinggir jalan. Adinda, ibu dan ayahnya kemudian berjalan memalui jalan setapak yang membelah hutan. Setelah melaui hutan bambu, terlihatlah gubuk nenek. Sesampainya di depan, diketuk Adinda pintu rumah nenek.
“ nenek, ini Adinda yang kemaren datang”
“ma. . .ma . .suk. . .lah. . . nak” jawab nenek dengan terbata-bata. Terdengar seoertinya nenek sedanga sesak nafas.
“ nenek sakit ya?” Tanya Adinda, tapi tak ada jawaban lagi dari dalam. Masuklah Adinda bersama Ayah dan juga ibunya. Betapa terkejutnya Adinda ketika melihat keadaan nenek yang sedang terbaring lemah di atas kasur. Langsung dihampirinya.
“ kenapa nek? kenapa nenek jadi begini?” Tanya Adinda. “ sejak kapan nenek sakit seperti ini”
“ su. . . su. . . dah . . . lama . . . nak.” Terdengar sekali, nenek susah menyelesaikan perkataannya. Seperti ada yang menghalangi pada pernafasannya.
“ sepertinya penyakit nenek sudah sangat parah, kita ke rumah sakit ya nek. Biar semua biayanya, orangtua adinda yang tanggung”
“ ga . . gak u, sah nak. Ne, nek su. . . sudah gak ku kuat la. . .” tiba-tiba suara nenek terhenti, seperti ada yang memutus suaranya, nenek pun menghembuskan nafas terakhirnya.
“ nenek . . . .!!” teriakan adinda memecah keheningan. “ jangan tinggalkan adinda nek” dinda langsung memeluk nenek yang tak bernyawa lagi, air matanya pun tak terbendung lagi dan meluncur deras di pipinya.
“ Relakanlah kepergian nenek itu Adinda, Ibu juga sedih melihat semuanya ini walaupun ibu tidak kenal dengan nenek. Dengan kerelaanmu, nenek akan pergi dengan tenang” kata Ibu Adinda menenangkan Adinda dari samping.
“ Bukannya begitu bu, Adinda bisa kok merelakan kepergian nenek. Tapi, Adinda kesal Kepada Adinda sendiri karena belum sempat memberikan bantuan kepada nenek, mungkin andaikan kita datang lebih pagi mungkin kita sempat membawa nenek ke rumah sakit dan nyawa nenek pun bisa tertolong”
“ jangan salahkan dirimu sendiri, semua ini telah diatur oleh yang maha kuasa. Mati dan hidupnya manusia, semua kuasa takdir Tuhan” kata ibu adinda lagi. Adinda pun memeluk ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Kita semua tidak tahu apa yang terjadi esok hari, semua yang direncanakan kadang tidak selamanya berjalan mulus karena semuanya berada dalam kuasa tuhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar