Senin, 10 Januari 2011

Kejamnya Hidup

karya : Wahyu Sp.

Senja yang sepi, sejak dua musim terakhir telah jarang kudengar kicauan burung yang seniantiasa menemaniku dari pulang berburu. Kondisi hutan yang kurang nyaman membuat banyak binatang yang bermigrasi. Biasanya suasana sangat ramai oleh suara monyet-monyet yang bercanda ria, tapi sekarang semua berubah. Pohon-pohon yang menjadi tempat berteduh banyak yang dibabat oleh manusia, ditebang seenaknya tanpa sebuah pemikiran yang panjang, ditambah oleh bisingnya suara pemotong kayu, akan semakin membuat suasana hutan tak nyaman. Kemajuan pesat yang dimiliki manusia, kini membuat mereka lupa dengan kami, para satwa yang sangat membutuhkan kenyamanan di hutan.
Aku sebagai kucing hutan pun sebenarnya ingin pindah dari hutan ini, tapi keadaanku sekarang tak memungkinkan. Sekarang aku sedang hamil tua dan tak mungkin untuk berpergian dengan tujuan yang jauh. Lagi pula aku juga tidak memiliki tujuan, aku tak tahu apakah di luar hutan ini masih ada hutan yang belum dirusak oleh manusia. Lebih baik aku bertahan di hutan ini dulu untuk sementara dan menunggu anak-anakku besar nanti. Sembari berdoa semoga masih ada tempat yang nyaman nantinya.
Hari semakin gelap, dan tiba-tiba perutku terasa sakit. Sepertinya aku akan segera melahirkan. Segera kulihat sekitarku, mencari apakah ada tempat yang aman dan nyaman untuk melahirkan. Kulihat di ujung kananku ada tebing yang menjorok, ku rasa di sana aman untuk anak-anakku nanti untuk berlindung dari hujan. Segera, secara perlahan aku berjalan menuju tebing tersebut.
Sesampainya, kucari posisi yang nyaman. Setelah dengan bersusah payah ku mengejan, akhirnya lahir juga ketiga anakku. Aku tersenyum puas karena ini adalah persalinan pertama yang kualami. Mereka terlihat sangat lucu walaupun masih berlumuran darah, warna bulunya masih belum terlalu terlihat. Kujilati tubuh mereka dengan penuh kasih sayang untuk membersihkan darah yang melekat pada mereka. Melihat mereka mencoba bergerak secara perlahan, aku tersenyum.
“ masih belum waktunya anakku, kau masih perlu tidur” bisikku dengan kasih sayang.
Aku yakin mereka adalah anak-anakku yang sangat hebat, yang bisa diandalkan di suatu saat kelak. Terus kujilati tubuh mereka sampai bersih dari darah yang melekat. Merasa kehangatan yang telah kuberikan mereka pun tertidur dengan pulasnya. Disamping mereka masih ada ari-ari yang tentunya berlumuran darah, kemudian kumakan ari-ari tersebut. Aku lelah dan ngantuk, setelah semua berjalan begitu cepat hari ini. Kulingkarkan tubuhku untuk memberikan kehangatan kepada anak-anakku. Aku berharap esok adalah hari yang bersahabat untukku.
###
Matahari mulai merangkak, berikan cahaya untuk separoh bumi. Hangat menyelimutiku, karena silau akupun membuka mataku. Ternyata anak-anakku bangun lebih pagi dari pada aku. Walau masih belum bisa untuk membuka mata, tapi mereka tetap mencoba untuk bergerak dengan perlahan. Inilah puncak kebahagiaan seorang ibu, melihat anak-anaknya pantang menyerah untuk beradaptasi dengan dunia yang baru mereka injak. Aku berjanji akan memberikan kasih sayang yang terbaik untuk mereka. Kujilati mereka satu persatu dengan penuh kasih sayang, mungkin hanya dengan cara seperti ini aku bisa memperlihatkan betapa aku menyayangi mereka. Lalu kuajari mereka untuk bisa mengisap ASI dariku. Ternyata mereka dengan cepat bisa mengerti, mungkin ini memang naluri seorang bayi. Mereka minum dengan rakusnya, kelihatannya mereka sangat haus. Melihat mereka sekarang, mungkin aku takkan tega meninggalkan mereka untuk berburu.
Seharian ini aku hanya bermalas-malasan dengan anak-anakku, hari ini memang akan kuhabiskan untuk menemani mereka. Menyelimuti ketika tidur, memberikan ASI sampai mereka puas, karena malam ini aku berencana untuk berburu. Perutku mulai keroncongan, kayanya dinner dengan lauk tikus tanah akan terasa nikmat. Aku segera membayangkan betapa lezatnya daging tikus tanah yang penuh dengan lemak, sampai menetes air liurku. Tak sabar aku menantikan malam ini. Sambil membayangkan semua itu aku kembali tertidur.
Aku terbangun dari tidurku, tak terasa hari sudah mulai sore. Pemandangan langit yang sangat indah di sebelah barat, meronakan warna orange. Dengan biasan cahaya memantul dengan adanya hujan di wilayah sana membuat pemandangan sore ini semakin mengagumkan. Sungguh tiada banding apa yang diciptakan Tuhan, sungguh sebuah masterpiece alam semesta, seorang maestro seperti Piccaso pun tak akan bisa melukis seperti apa yang kulihat sekarang. Tidak ada yang dapat menyamai maestro alam semesta ini. Selepas dari apa yang kulihat sekarang, perutku kembali berdemo. Melihat anak-anakku yang sedang tidur dangan pulasnya, aku kembali tak tega untuk meninggalkan mereka. Tapi aku harus mencari makan untuk kelangsungan hidupku dan tentunya mereka.
Hari mulai gelap, dan bulan akan menggantikan tugas matahari. Aku berjalan dengan pelan-pelan, takut akan membangunkan anak-anakku. Setelah merasa jauh, aku mulai berjalan seperti biasa. Kadang-kadang aku mengendap-ngendap sambil mengintai apakah ada mangsa yang empuk. Kulihat sekitarku dengan sorot mata yang sangat tajam, takkan ku biarkan aku lengah walau sesaat. Tak terasa, ternyata aku telah berjalan sangat jauh dari tempat anak-anakku berteduh. Sekarang berburu memang lebih sulit, karena mangsaku juga semakin berkurang, jadi harus berjalan jauh dulu. Berbeda sekali dengan dulu, paling berburu sebentar dengan mudah aku mendapatkan mangsaku.
Aku mulai merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat. Dari pendengaran sebelah kiriku terdengar suara kresek-kresek dedaunan. Sepertinya itu adalah suara mangsaku, dengan mengendap-ngendap aku mengintai dari kejauhan. Ternyata seekor tikus tanah yang ingin keluar dari sarangnya.
“ wah ada mangsa yang empuk nich,” batinku
Kelihatannya dia juga sangat waspada dengan memperhatikan sekitarnya. Tapi sepertinya dia tak menyadari akan keberadaanku. Aku mulai berjalan perlahan, supaya mangsaku tidak tahu, sembari menunggu momen yang pas untuk menerkamnya. Ketika momen itu datang, aku langsung menerkamnya dan menggigit lehernya. Setelah kurasa mangsaku telah lemas dan tak ada pelawanan, kulepas gigitan di lehernya. Ku pandangi mangsaku yang telah sekarat dengan rasa puas, terlihat sangat gemuk dan sangat lezat tentunya. Kumulai dengan mengoyak-ngoyak kulitnya, ku makan dengan lahapnya sampai tak ada yang tersisa.
Setelah puas menyantap mangsaku, terlihat langit sangat mendung pertanda akan turun hujan. Dan tak berselang lama turun hujan dengan derasnya dengan diselingi kilat-kilat yang menyambar dan bunyi gemuruh petir. Sepertinya aku tak bisa pulang dan harus berteduh. Telihat didekatku sebatang pohon yang sangat besar dan merupakan tempat yang ideal untuk berteduh sementara. Dengan cekatan aku langsung menuju pohon tersebut untuk berteduh. Aku berlindung disela-sela akar yang sangat besar.
Petir semakin menggila, suasana malam semakin terasa menakutkan. Seketika aku ingat akan anak-anakku, pasti mereka takut dengan suara-suara gemuruh petir yang semakin mengamuk. Tiba-tiba petir menyambar ujung pohon yang tak jauh dari keberadaanku. Dengan seketika pohon tersebut tumbang. Aku semakin mengkhawatirkan keadaan anak-anakku, mengkhawatirkan akan keselamatan mereka. Aku dihantui dengan rasa bimbang yang amat sangat. Aku ingin pulang dan memberikan rasa aman kepada anak-anakku, tapi situasi semakin tak memungkinkan. Hujan turun semakin lebat, ditambah dengan amukan angin, suara petir pun sepertinya masih enggan untuk berhenti. Sekarang aku putuskan untuk pulang, dengan berjingkat-jingkat menghidari genangan air yang dalam, tiba-tiba suara petir menggelegar dan hujan semakin tak bersahabat. Aku mengurungkan niatku, aku tak mungkin bisa pulang dengan keadaan cuaca seperti ini, aku juga harus memikirkan keselamatan diriku sendiri, andaikan aku tewas dalam perjalanan pulang lalu siapa yang akan merawat dan membesarkan anak-anakku. Aku kembali ke tempatku berteduh tadi, dingin mulai merayapi tubuhku, karena buluku basah akibat kupaksa untuk kembali tadi. Kulingkarkan tubuhku untuk berlindung dari kedinginan. Kuputuskan aku akan tidur di sini malam ini.
Dalam lelap tidurku, aku terbangun karena terdengar suara gemuruh yang sangat nyaring dan terasa tanah sedikit bergetar. Sepertinya ini bukan suara petir, tapi suara tanah longsor. aku kembali menghawatirkan keadaan anak-anakku. Hatiku merasa sangat gelisah dengan keadaan seperti ini. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada anak-anakku, sebagai seorang ibu yang memiliki naluri keibuan, aku merasakannya. Aku mencoba untuk tenang, tapi tak bisa. Aku mencoba untuk tidur kembali, tetap juga tak bisa. Kegelisahan ini sangat mengahantuiku, apalagi suasana malam semakin mencekam dan hujan semakin tak bersahabat.
Hari mulai terang, dan hujan pun mulai reda. Malam yang terasa sangat panjang bagiku. Aku memutuskan untuk langsung pulang. Dengan cekatan aku berjingkat-jingkat melalui jalan yang sebagian masih tergenang air. Ketika sesampainya di tempat anak-anakku kemaren berteduh, aku melihat pemandangan yang lain di hadapanku, terlihat tebing kemaren tertimbun tanah akibat longsor. Tiada lagi sisi tebing yang terlihat, semua tertimbun tanah yang sangat tebal, seketika hatiku hancur melihat kenyataan di hadapanku. Anak-anakku telah mati tertimbun longsor, tak kusangka kekhawatiranku malam tadi ternyata terjadi. Aku menjadi tak berdaya, rasanya nyawaku terbang. Dengan langkah gontai aku mencoba untuk mengais-ngais tanah, berharap anak-anakku bisa bertahan, walaupun aku tahu itu tak mungkin.
Aku harus menghadapi kenyataan bahwa anak-anakku terkubur hidup-hidup akibat longsor. Ekosistem yang tak bersahabat lagi menyebabkan semua ini terjadi, karena pohon-pohon yang berada di atas tebing ditebang dengan sesukanya, akibatnya tanah mudah longsor. Dan itu terjadi sekarang. Semua akibat keserakahan manusia.
” Tuhan, mengapa harus aku yang menanggung penderitaan karena keserakahan manusia, apakah semua ini adil untukku?” dengan isakan tangis aku berteriak sekencang kencangnya. Menerobos angin, lari menuju langit ketujuh.
###

Tidak ada komentar:

Posting Komentar