Karya : Helda Aprillia
Malam ini kurasakan lagi sakit hati yang mendalam. Ditemani cahaya bulan dan bintang yang gemerlapan menghiasi langit malam. Ingin rasanya aku melepaskan beban berat di hatiku. Ingin rasanya aku berteriak memecah keheningan malam. Tetapi, perasaan ku tak mampu melakukan semua itu. Aku hanya bisa menangis. Tatkala pikiranku melayang pada kejadian yang pernah ku alami satu tahun yang lalu.
Waktu itu aku kelas 3 SMP dan baru saja melewati libur kenaikan kelas. Saat itu pula aku baru saja jadian dengan seorang lelaki, “Randi” namanya. Dia baru lulus SMA dan akan melanjutkan kuliah ke luar kota. Aku sangat bahagia melewati hari-hari dengannya. Randi adalah cinta pertamaku. Aku tak ingin kehilangannya, karena kau sangat mencintainya. Begitu juga Randi, ia juga sangat mencintaiku.
Tak terasa enam bulan sudah kami menjalani kisah cinta ini. Kami berdua hampir tidak pernah bertengkar. Randi sangat pengertian padaku, dia juga tidak pernah memaksakan kehendak kehendaknya sendiri. Tetapi saat usia hubungan kami memasuki bulan ke-delapan. Aku merasakan suatu perubahan pada diri Randi, tiga hari sekali dia baru menghubungiku dan kadang-kadang seminggu sekali, itupun hanya lewat sms. Aku bingung menghadapi tingkah laku Randi yang berubah drastis, tetapi aku mencoba untuk mengerti dan selalu mengerti. Mungkin dia benar-benar sibuk dengan kuliahnya. Aku tetap berusaha berbaik sangka.
Sampai suatu saat, kudengar kabar bahwa Randi punya kekasih baru.ia satu kampus dengan perempuan itu, bahkan satu jurusan.
“ oh Tuhan, benarkah yang ku dengar ini?” bisikku dalam hati. Aku masih belum percaya. Kutanyakan lagi dengan detail dengan temanku yang mengaku berteman baik dengan Dewi, kekasih Randi yang baru. Akhirnya ku dapatkan nomor telpon dewi. Aku pun langsung menghubunginya.
“ aku cukup menikmati hubunganku dengan Randi. Maaf kalau aku gak tau kalau randi sudah milikmu” terdengar suara dari seberang sana, tanggapan dewi setelah Ku jelaskan tentang hubunganku dangan Randi. Aku hanya bisa terisak mendengar pengakuan itu.
“ berarti sudah tujuh bulan ini Randi membohongi kita” ucap Dewi setengah menyesal. Langsung ku putus pembicaraan kami.
“apa? Tujuh bulan?” teriakku sendiri dengan ditemani tetesan air mata. Aku kaget dengan semua ini. Tak ku sangka Randi bisa seperti itu.
“ Randi, kamu munafik. Aku benci kamu. Aku tak ingin mengenalmu lagi” teriakku sendirian, tak ku perdulikan lagi sekitarku. aku ingin meluapkan semuanya. Aku ingin menghilangkan bayang-bayang Randi. Semua orang melihati aku, tetapi aku tetap masa bodoh dengan semuanya. Yang kutahu sekarang adalah betapa sakitnya dikhianati.
Sekarang aku sudah tahu semuanya. enggan rasanya aku menghubungi laki-laki pembohong itu. Ternyata jarak yang jauh telah membuatnya lupa akan diriku. Kepercayaanku selama ini telah disia-siakannya. Ada sedikit rasa jera menghimpit benakku. Aku tak pernah menyangka bahwa randi bisa sejahat itu denganku. Kebohongannya sungguh hebat dan benar-benar tersusun rapi.
“ Felish, ayo masuk. Sudah malam” panggil ibunya dari dalam rumah. Tanpa kusadari aku telah melamun sejak lama dan terbuai dengan kenangan pahitku bersama Randi. Aku langsung masuk ke kamar dan tidur. Rasa sakit ini akan kukubur dalam-dalam dan akan ku jadikan sebagai pelajaran untuk kehidupanku ke depannya. Walaupun luka di hati ini sulit untuk disembuhkan.
Delapan bulan, bagiku itu bukan waktu yang singkat untuk menjalani sebuah hubungan. Oleh sebab itu, aku sangat sulit melupakan kenangan masa laluku bersama Randi. Aku sadar, jika aku masih saja larut dalam kesedihan ini, aku tak akan bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku harus tegar. Mungkin ini adalah resiko yang harus ku tanggung. Dan untuk sementara waktu aku tak ingin menjalin cinta dulu, setelah apa yang aku alami. Aku masih ingin menikmati kesendirianku tanpa kekasih. Meskipun begitu, aku masih punya banyak teman yang bisa membuatku tertawa dan melupakan semua hal yang telah terjadi, meskipun hanya sesaat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar