Rabu, 15 Desember 2010

Harapan di Ujung Airmata

Karya : Aisyah

Sinar matahari terasa panas menyengat kulit. Keringat bercucuran dari tubuh dinda, yang pulang dari sekolah. Dia mengayuh sepedanya dengan sabar, meskipun kadang-kadang dia menggerutu dalam hati kenapa nasibnya tak sebaik teman-temannya.
Dinda menyeka keringat dikeningnya, memasukkan sepedanya ke dalam rumah, lalu sesaat kemudian berjalan menuju dapur, dibukanya makanan yang tertutup, yang terletak di atas meja.
“ikan kering lagi” ucapnya lirih. Diambilnya piring lalu dimasukkannya nasi sedikit, kemudian dikunyahnya nasi itu bersama ikan kering.
“sedikit sekali makannya Dinda?” komentar ibunya dari belakang.
“eh, ibu. . .” ucap dinda kaget, karena ibunya tiba-tiba saja datang dan berada di belakangnya dengan sambil menepuk pundaknya dengan pelan.
“kamu bosan tiap hari makan ikan kering?” Tanya ibunya lembut.
“nggak bu, Dinda Cuma lagi nggak nafsu makan aja”
“ibu mengerti din, sebenarnya ibu pun bosan tiap hari harus makan ikan kering. Tapi ya mau bagaimana lagi, ibu tak punya uang untuk . . .” kata-kata ibunya terhenti saat jari Dinda menempel dibibir ibunya.
“ibu jangan bicara seperti itu, Dinda nggak pernah bosan kok. Ya sudah nggak usah terlalu dipikirkan bu, yang terpenting bagi Dinda saat ini adalah kesehatan ibu, Dinda nggak mau ibu sakit, Cuma gara-gara memikirkan hal makanan. Nanti kalau ibu sakit, lalu siapa yang kerja? Siapa yang biayai sekolah Dinda?”.ibu Dinda tersenyum manatap anaknya. Bagi ibunya, Dinda adalah mutiara, meskipun Dinda sering membuatnya kesal. Hanya dinda satu-satunya harta yang paling berharga, yang beliau punya dan bagi Dinda, ibunya adalah pelindung dan tempat dia mangadu sekaligus penanggung segala kebutuhan Dinda, karena semenjak kecil sampai Dinda duduk di bangku SMA, ibunyalah yang membiayai sekolah, makan, jajan dan segalanya.
Mungkin banyak orang mengira hidup Dinda bahagia. Bagaimana tidak?, ayah Dinda adalah seorang petani sekaligus pengusaha sukses. Tanahnya yang berhektar-hektar ditanami berbagai macam sayur,buah dan sebagainya, yang melimpahkan uang yang sangat banyak. Belum lagi usaha dalam bidang yang lain. Oleh karena itulah ayahnya memiliki harta yang berlimpah ruah.
Namun ironisnya, sebaliknya dengan Dinda. Hidupnya penuh dengan kekurangan. Mustahil memang, tapi itulah realita yang menimpa Dinda dan ia harus menerimanya dengan sabar dan ikhlas. Dinda memang dilahirkan oleh seorang ibu yang hidunya di bawah garis kemiskinan dan mempunyai 6 saudara tiri atau saudara seayah. Dinda merupakan anak dari istri kedua bapaknya. Sedangkan keenam saudaranya tadi adalah anak dari istri pertama.
Kehidupan antara Dinda dengan saudaranya yang lain sangat jauh berbeda. Bayangkan saja, Dinda hidup serba kekurangan. Dari kecil sampai berumur 9 tahun baru ayahnya ada menjenguknya. Ayahnya hanya tahu mengirim uang, itupun sangat jarang dan sangat tidak mencukupi. Tak usah untuk membicarakan makan dan pakaian, untuk jajan dan uang saku satu bulan saja tidak cukup. Sedangkan ayahnya kadang hanya 3 bulan sekali mengirim uang. Bahkan Dinda terkena penyakit yang berbahaya saja ayahnya samapi tak tahu. penyakit Hepatitis B yang bersarang di tubuhnya hampir saja merenggut nyawanya.
Pucat, kurus, dengan sepasang mata yang sayu, hati ibu mana yang tak sakit hatinya melihat keadaan anaknya seperti itu. Teriris-iris rasanya, apalagi dengan melihat dinda yang semakin hari semakin parah penyakitnya. Dokter bilang, jalan satu-satunya adalah dengan membawa Dinda ke RSUD Provinsi. Rasa tak berinjak di bumi lagi ketika ibu Dinda mendengarnya, dari mana ia bisa mendapatkan uang unruk biaya rumah sakit yang mahal itu.sedangkan untuk biaya sehari-hari saja tidak cukup. Minta uang pada ayah dinda? Itu hanya hal bodoh yang sia-sia, karena ayah Dinda terkenal pelit.
Ternyata Allah sangat mencintai dan menyayangi hambanya yang sabar. Beruntung saja, ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakit itu dengan cara tradisional. Ibu Dinda hanya disuruh membawa beras secukupnya dan uang 5000 rupiah sebagai papajar. Dinda pun akhirnya dapat disembuhkan, yang tentunya dengan pertolongan Allah SWT.
Lalu bagaimana dengan ke enam saudara tiri Dinda? mereka hidup dalam kecukupan. Mereka selalu dimanjakan. Apa saja yang mereka inginkan pasti akan mereka dapatkan. Sebuah ironi yang menyedihkan, keadaan bagai langit dan bumi dengan Dinda.
&&&
Kabut hitam menyelimuti langit. Dinda duduk di beranda rumahnya. Awan mendung itu seakan ikut merasakan apa yang dirasakan olehnya. Rinai-rinai hujan seakan ingin mengiringi kesedihan dan isak tangis hidupnya.
“Dinda. . .” sapa ibunya dari belakang.
“iya bu. . .”
“kamu kenapa menangis?” tak ada jawaban dari Dinda. “ada apa nak?” ibu Dinda mencoba menanyakan lagi.
“Dinda ngggak apa-apa bu” jawab Dinda dengan suara agak serak. Aliran tangisnya semakin deras.
“ kalau kamu nggak kenapa-kenapa, tapi kenapa mesti nangis?”
“Bu. . .” ucap Dinda sambil terisak. “SPP Dinda belum dibayar, padahal Dinda sudah nunggak 4 bulan, tadi Dinda sudah dipanggil pak kepala sekolah. Beliau menanyakan kapan akan dibayar”. Ibu Dinda menghela nafas panjang. Sekarang beliau mengerti mengapa Dinda menangis dan mulai berpikir bagaimana cara untuk mendapatkan uang dan melunasi SPP Dinda.
“Din, kamu bilang dulu sama pak kepala sekolah. Insya Allah bulan depan kita akan bayar semuanya. Kamu doakan saja semoga kue-kue ibu laris terjual dan semoga ayahmu akan mengirim uang untuk kita. Kamu sabar ya. . . ”
Tatapan Dinda semakin sayu. Hatinya seakan remuk ketika mendengar ibunya yang berharap ayahnya segera mengirim uang untuk mereka. Ingin sekali ia mengatakan kepada ibunya, “ hanya hal yang sia-sia bu, apabila kita mengharapkan kiriman dari ayah”. Tapi urung ia ucapkan, ia tak ingin melihat ibunya sedih. Ia sangat tahu betapa cinta ibunya kepada ayahnya, entah apa yang beliau lihat, padahal ayahnya hanya memberikan penderitaan kepada mereka. “ mungkin ini yang dimaksud cinta buta” pikir Dinda.
&&&
Hembusan angin malam kian terasa dingin. Dinda yang sibuk dengan buku-bukunya tak menghiraukan betapa dinginnya malam itu. Konsentrasinya terpusat pada banyaknya tugas sekolah yang harus dikerjakannya.
Meja belajarnya yang hanya diterangi lampu lentera itu, membuat Dinda sulit mengerjakan tugas sekolahnya. Sebenarnyakejadian seperti itu bukan pertamakali dialami Dinda. akibat dari pemadaman listrik yang sering terjadi, Dinda menjadi sering menggerutu sendiri.
“ ayo tidur Din!” ajak ibunya yang sudah dipembaringan.
“ sebentar lagi bu, tanggung nih” sahut Dinda.
“ jangan terlalu larut malam Din baru tidur, nanti kamu bangun kesiangan lo. . .”
“ iya bu, tinggal 2 buah soal lagi kok”
Decaran kilat dan dentuman halilintar seakan berlomba-lomba unjuk gigi. Angin semakin bertiup dengan kencangnya. Saat Dinda akan menyelesaikan tugasnya yang tinggal sedikit lagi. Tiba-tiba lampu lentera yang tergantung padam karena tertiup oleh angin.
“ah, sialan” gerutu Dinda. “lampunya padam lagi”
Keadaan menjadi gelap gulita. Perlahan dicarinya korek api yang terletak di laci meja. Namun sayang, ternyata korek apiny habis. Putus sudah jadinya harapan Dinda untuk menyelesaikan tugasnya. Dibiarkannya buku-bukunya berantakan di atas meja. Direbahkannya tubuhnya di sisi ibunya. Dinda memejamkan matanya, namun sebelum melepas lelah hari ini. Bayangan ayahnya, orang yang sangat dibencinya melintas di pikirannya. Kekesalannya tak terbendung, namun ketidakberdayaannya membuatnya hanya bisa melampiaskan semuanya dengan tangisan dan caci maki dalam hati. Dinda tak bisa melewati malam dengan kebahagiaan. Tidak adanya tanggung jawab dari ayahnya serta kemiskinan yang harus dijalaninya membuat harapan dan cita-citanya akan terkubur dan terjatuh menjadi butiran-butiran air mata. Namun ia tak akan menyerah untuk mencapai cita-citanya. Dan ia akan tetap bersabar menghadapi semua, ia yakin Allah mendengarkan doanya. Allah tidak mungkin menguji hambanya melebihi kemampuan hambanya tersebut. Dinda yakin ia akan bisa melewati semuanya dan menggapai kesuksesan di masa depan kelak.

1 komentar:

  1. @aisyah_
    bagus euy,,
    saran nih, coba agak di"halus"kan, dinda sering menggerutu dalam percakapannya, tapi di dalam narasimu, dinda punya kepribadian yang baik. perpindahan antara gerutu dan kebaikannnya perlu dihaluskan agar makin enak ceritanya..

    @wahyu_
    sekalian aja ya boi,
    buku2mu masih ada kan? perbanyak bacaan, itu saja.... plus latihan sih, ha2

    BalasHapus