Minggu, 19 Desember 2010

Candu Hidup

Karya : N. Rani

“ terlambat? Ya aku memang terlambat. Harus bagaimana ini?” gerutuku dalam hati ketika melihat jam yang telah menjukkan bahwa sebentar lagi aku harus masuk kelas.
“ ma. . .!” kupanggil mamaku yang biasa ku pintai tolong untuk menyiapkan seragam sekolahku setiap pagi. Pagi? Mungkin sebuah ungkapan yang salah ya, lebih tepatnya setiap pagi yang hampir siang.
Inilah kebiasaanku setiap pagi. Selalu bangun kesiangan. Padahal aku ingin merubah kebiasaan ini dengan memasang jam alarm, tetapi malah tak berguna sama sekali. Aku tetap saja bangun kesiangan.
Setelah menyempatkan mandi, walaupun hanya sempat mandi itik, istilah mandi hanya dengan waktu yang singkat dan cukup asalkan tubuh terguyur air. Aku langsung bersiap untuk pergi ke sekolah. Aku bergegas mengendarai motor kesayanganku. Kutarik gas dan terus melesat tanpa memikirkan ramainya jalan. Yang ada di otakku hanya ada kata “ ngebut, dan aku harus ngebut!”.
Sesampainya di depan gerbang sekolah yang baru saja ditutup, namun dibuka lagi sedikit oleh security sekolah. Untung dia masih mau membukanya, karena dia sudah mengerti denganku, bagaimana kebiasaanku setiap masuk sekolah. Pasti sangat on time, pas bel berbunyi dan pintu pagar ditutup.
Bukan mama saja yang mengerti bagaimana kebiasaanku ini, tetapi keluarga, guru dan teman-temanku pun mengerti dan memakluminya. Kata mereka aku memiliki penyakit yang tak bisa hilang dariku dan sudah melekat yang menjadi ciri khas tersendiri. Aku sungguh tidak suka dengan sebutan seperti itu.
Malam ini aku merenung memikirkan mengapa aku selalu bangun kesiangan? Padahal tiap malam aku tidak begadang dan aku juga gak pernah tidur terlalu larut malam. Tetapi tetap saja aku bangun kesiangan, kadang aku sendiri merasa heran, apa karena ini kebiasaan turun temurun? Tidak mungkin, tidak ada keluargaku yang sepertiku.
Jam baru menunjukkan angka 7, tetapi aku sudah merasa mengantuk. Mataku terasa sangat berat padahal tidak biasanya aku mengantuk pada waktu-waktu seperti ini. Kuajak badanku untuk berbaring di kasur empukku. Hanya sebentar aku memejamkan mata, aku langsung tertidur.
Dalam perjalanan tidurku, aku memimpikan hal yang aneh sekali. Aku melihat seorang anak laki-laki membawa cahaya yang mirip dengan matahari yang berukuran seperti bola basket di tangannya. Kemudian kudekati dia perlahan-lahan, mataku tak lekat selalu memandanginya. Ketika sudah dekat, tiba-tiba saja anak itu menghilang dari pandanganku.
Pagi-pagi aku terbangun. Apa pagi? Aku sudah terbangun? Tidak biasanya aku bangun pagi. Kubuka jendela kamarku. Kulihat keluar, ayam pun baru berkokok dibarengi dengan terbitnya matahari. Embun masih menetes di dedaunan yang ada di pekarangan rumahku. Oh. . . seperti inikah indahnya pemandangan pagi hari? Ku tak menyangka pagi itu begitu indah, apabila diresapi dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Menghirup udara segar yang membuat hati dan pikiran menjadi segar dan jernih. Sesegar dan sejernih air yang mengalir pada mata air pegunungan.
“ ma. . . ma,!” ku panggil mamaku untuk membuktikan bahwa ternyata aku juga bisa bangun pagi. Dan mamaku pun tidak menyangka ternyata aku bisa bangun pagi. Mama terlihat senang ketika melihatku bisa merasakan udara pagi hari.
“ ma, mama tidak usah menyiapkan seragam sekolahku karena aku akan menyiapkannya sendiri. Sekarang kan aku bisa bangun pagi, jadi aku bisa melakukannya” ucapku sambil tersenyum kepada mama. Tetapi mama malah tertawa setelah mendengar ucapanku, seharusnya kan mama bangga melihatku.
“ mengapa mama malah tertawa setelah mendengar ucapanku?” tanyaku cemberut.
“ kamu nggak ingat ya, kalau hari ini hari minggu” jawab mama, masih sambil tertawa tetapi tertawa yang ditahan-tahan.
“ ups, iya ya, hari ini kan hari minggu. he he” aku pun jadi malu sendiri. Padahal aku menginginkan hari ini adalah hari masuk sekolah. Aku ingin membuktikan kepada semuanya kalau aku juga bisa bangun pagi.
Keesokan harinya mama membangunkanku, tetapi aku baru bangun setelah berkali-kali dibangunkan. Oh, aku bangun kesiangan lagi. Dan begitu juga seterusnya, aku selalu bangun kesiangan dan selalu datang terlambat ke sekolah. Padahal aku ingin merasakan lagi keindahan pagi hari. Biarpun begitu aku tetap bersyukur bisa merasakannya. Aku hanya bisa berharap di kemudian hari aku bisa merasakannya lagi. Sepertinya aku telah dimabukkan rutinitas hari-hari. Secara tak sadar aku dijajah, dan harus memerlukan keinginan yang kuat untuk berubah. Mungkin belum waktunya, karena walaupun sulit dimengerti. Aku masih sangat menikmatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar